Senin, 19 Maret 2012

Kebahagiaan Ada Disisi Kita





Kebahagian manusia ada bila ia bisa membuka mata hatinya, dan menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti dan menyadari betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Kebahagian manusia tidak dapat hadir karena tidak mau membuka hati, dan berusaha meraih apa yang tidak dapat diraih, terlalu memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri apa yang ia miliki.

Keegoisan manusia yang menyebabkannya menjadi buta, keegoisan dan hanya memikirkan diri sendiri yang menyebabkan manusia tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik untuknya.

Begitu banyak sahabat yang begitu mencintai, tapi karena terlalu memilih, menilai dan menghakimi sendiri.. justru sahabat sejati menjadi semakin jauh. Terlalu memilih sahabat membuat manusia tak dapat menyadari di depan mata ada sahabat sejati yang dibutuhkannya.

Tiap tiap manusia memiliki arti dan peranan masing-masing, semua berbeda, tidak ada yang memiliki arti yang sama persis punya peranan dan kelebihan disatu hal, tidak harus memiliki peranan dan arti dalam hal lain. Dicintai oleh satu orang belum tentu disayang oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jangan beraharap dari diri manusia lain, karena orang lain dapat mengkhianati. Kebahagiaan ada bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai dan menerima manusia lain.

Percaya kepada Allah Swt

bersyukur bahwa manusia selalu diberikan yang terbaik.

sesuai yang diperbuat manusia itu sendiri, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi di saat yang tepat apa yang manusiaNya butuhkan, tidak harus saat ini, masih ada esok hari.

Seperti yang sedang teralami, mendapat suatu cobaan dan kesusaahaan adalah jalan untuk dapat melihat kebahagiaan

Minggu, 18 Maret 2012

Kisah Imam Al-Ghazali dan Muridnya





Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya:
Imam Gazali: Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?

Murid 1 = Orang tua
Murid 2 = Guru
Murid 3 = Teman
Murid 4 = Kaum kerabat


Imam Ghazali = Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).
Kemudian Imam Ghazila bertanya lagi

Imam Ghazali = Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?


Murid 1 = Negeri Cina
Murid 2 = Bulan
Murid 3 = Matahari
Murid 4 = Bintang-bintang


Iman Ghazali = Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Iman Ghazali = Apa yang paling besar didunia ini ?


Murid 1 = Gunung
Murid 2 = Matahari
Murid 3 = Bumi


Imam Ghazali = Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.

IMAM GHAZALI = Apa yang paling berat didunia?


Murid 1 = Baja
Murid 2 = Besi
Murid 3 = Gajah


Imam Ghazali = Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.

Imam Ghazali = Apa yang paling ringan di dunia ini ?


Murid 1 = Kapas
Murid 2 = Angin
Murid 3 = Debu
Murid 4 = Daun-daun


Imam Ghazali = Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.

Imam Ghazali = Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?


Murid- Murid dengan serentak menjawab = Pedang


Imam Ghazali = Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

KETIKA MENTARI TAK LAGI BERSINAR





Hidup itu memang tidak mudah. Tantangan terberat yang harus dihadapi selain diri sendiri adalah orang lain.

Memahami karakter orang lain itu sangat sulit, apalagi bila mereka adalah orang-orang terdekat kita.


Akan sangat mudah memberikan nasihat satu sama lain, tetapi akan sangat sulit bila sama-sama terlibat dalam suatu konflik.

Terkadang kita sudah melakukan berbagai macam cara untuk memperbaiki suatu keadaan. Dan kita tidak akan pernah tahu apakah semua usaha kita itu membuatnya semakin "keras" atau semakin "lembut".

Lalu apa yang akan kita lakukan?

Berbagilah pada orang yang satu level lebih tinggi darimu dan ceritakan semua masalahmu.
Satu level lebih tinggi itu artinya adalah kita mencari orang yang cara berpikirnya jauh lebih dewasa dari kita, mempunyai kepribadian lebih baik, dan iman yang luar biasa.

Solusi yang mereka berikan tidak akan pernah menjurumuskanmu ke dalam lembah kelam tetapi mereka akan membantumu untuk melihat matahari yang selama ini tak tampak di matamu.

Kabut-kabut kehidupan memang tidak bisa kita hindari.
Kita harus dapat menghadapinya dengan tepat.
Jangan takut untuk melangkah. Jangan takut untuk mengambil suatu keputusan.

Hadapi semua resiko yang ada karena itu merupakan tantangan hidup yang harus kita menangkan.
Jangan bimbang karena itu bukanlah sebuah jawaban yang tepat untuk menghadapi suatu masalah.
Kebimbangan hanya akan memperkeruh keadaan.

Terlalu banyak alasan yang bisa membuat kita tersenyum.
Pikirkanlah nikmat-nikmat yang telah Allah berikan dalam hidupmu bila hidupmu terasa gelap.

Bebaskanlah imanmu untuk selalu mempercayai Allah Swt
Tumbuhkanlah benih-benih kasih yang ada di dalam hatimu dan cabutlah duri-duri yang menyakiti hatimu.
Duri-duri itu hanya akan "mengkerdilkan" iman dan berkatmu.
Jadilah kuat dan Jadilah pemenang

Sabtu, 17 Maret 2012

Bagaimana Kita Memandang




Kisah ini terjadi beberapa tahun yang silam, ketika seorang teman terpelajar dari semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta
Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.

Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda. "Oh, Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang kedua" jawab ibu itu.
"Wouw, hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

"Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak-adik adik nya?
"Oh ya tentu "si Ibu bercerita:"Anak saya yang kedua seorang dokter di Malang, yang ketiga kerja di Perkebunan di Lampung, yang keempat menjadi arsitek di Jakarta, yang kelima menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke enam menjadi Dosen di Semarang.

"Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke enam. Terus bagaimana dengan anak ibu yang pertama?

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab,"anak saya yang pertama menjadi petani di kota kecil bernama Godean di Jogja. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar, nak"

Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu, kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang ia menjadi petani.
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,

"Ooo ...tidak, tidak begitu nak. Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai semua sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani."

Sobat, Janganlah kita cepat mengambil kesimpulan dari apa yang kita lihat dan kita rasakan. Karena apa yang kita bayangkan belum tentu benar.

Kenapa Tuhan Membiarkan Ini Terjadi


Kadang kita bertanya dalam hati dan dengan mudahnya menyalahkan Tuhan,

"apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?"
Atau
"kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya ?"

Here is a wonderful explanation
Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport,masalah lainnya dia putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.
"Yaiks," ujar anaknya.
"Bagaimana dengan telur mentah ?"
"You're kidding me, Mom."

"Mau coba tepung terigu atau baking soda ?"
"Mom, semua itu menjijikkan."

Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu.

Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."
Tuhan bekerja dengan cara yang sama.

Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.

Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rencanaNya, segala sesuatunya kan menjadi sempurna tepat pada waktunya..
Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita..

Tuhan teramat sangat mencintai kita.
Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, Sinar matahari setiap pagi.
Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. 
Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya,
Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Salam Silaturahmi


Kamis, 15 Maret 2012

JIKA SEMUANYA KAN MENJADI MASA LALU



jikalah DERITA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang KETEGARAN akan lebih indah dikenang nanti.


Jikalah KESEDIHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak DINIKMATI saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.


Jikalah LUKA dan KECEWA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang KETABAHAN dan KESABARAN adalah lebih utama.

Jikalah KEBENCIAN dan KEMARAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang MENAHAN DIRI adalah lebih berpahala.

Jikalah KESALAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya
Sedang TAUBAT itu lebih utama.

Jikalah HARTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya.
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang KEDERMAWANAN justru akan melipat gandakannya.

Jikalah KEPANDAIAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta MEMIMPIN dunia agar sejahtera.

Jikalah CINTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,

Sedang MEMBERI akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah BAHAGIA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang BERBAGI akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah HIDUP akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak KEBAIKAN bisa DICIPTA.

Suatu hari nanti, SAAT SEMUA TELAH MENJADI MASA LALU aku ingin ada diantara mereka, Yang beralaskan di atas permadani sambil bercengkerama dengan tetangganya, Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu, Hingga mereka mendapat anugerah itu.

“Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulangi lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia.”

Suatu hari nanti, KETIKA SEMUA TELAH MENJADI MASA LALU, aku tak ingin ada di antara mereka, yang berpeluh darah dan berkeluh kesah, andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

“Duhai! Harta yang dahulu ku kumpulkan sepenuh raga, ilmu yang ku kejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak ku buat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkan ku kini?”

“Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu ku jalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus ku arungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?”

KISAH SEBATANG BAMBU




Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani.

Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya.
suatu hari datanglah sang petani yang memiliki pohon bambu tersebut,

Dia berkata kepada batang bambu,


” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”


Batang bambu menjawabnya,


“Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan.
Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”

Sang petani menjawab,


“Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu.

Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku.

Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”


Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam, kemudian dia berkata kepada petani,

“ Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah- belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat- sekat penghalang itu.

Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab,
” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya batang bambu itu menyerah,
“Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Sobat sekalian
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yang sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya?

Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul.

Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata,
” Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”

Salam Silaturahmi