Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2014

Cerita Sex Janda Cantik Butuh Belaian

Cerita Sex Janda Cantik Kurang Sentuhan Lelaki
Cerita Sex Janda Cantik Butuh Belaian- Siang itu aku sampai dirumah dengan perasaan galau yang amat sangat, bagaimana tidak, pekerjaan yang aku lamar sebagai pemijat di salah satu Panti Pijat daerah Jakarta Timur ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Ada kengerian menghadapi profesi sebagai pemijat yaitu kita akan berada pada posisi segaris rambut untuk mendekatkan diri pada dosa.
Berdasarkan iklan satu harian ibukota pada kolom “Lowongan Kerja,” aku membaca salah satu Panti Pijat membutuhkan 10 tenaga pemijat dengan persyaratan wanita umur 25-35 tahun, berpenampilan menarik dan bersedia bekerja shift antara pukul 09.00-23.00 (bekerja setiap hari 7 jam). Para pelamar diharapkan datang langsung untuk menyerahkan lamarannya sekaligus wawancara, begitu bunyi iklannya.
Kalau bekerja sampai malam aku tidak terlampau keberatan dan mengenai penampilanpun aku tidak merasa khawatir karena hampir semua orang yang bertemu muka dengan aku pasti akan terkesima dengan kemolekan mukaku dan putihnya kulitku.
Sering orang menggodaku dengan memanggil Cornelia Agatha.. Ahh ada-ada saja orang yang memanggilku demikian batinku. Tidak sedikit para pedagang di pasar menggodaku ketika aku belanja bahkan anak-anak muda di tempatku tinggal banyak yang mencoba mendekatiku, tapi tidak satupun aku gubris karena aku tidak suka dengan pria yang iseng, laginya kematian Mas Imron suamiku belum genap 3 bulan.
Uhh tidak enak sekali status sebagai janda jerit batinku. Kematian Mas Imron inilah yang kemudian memaksaku untuk mencari pekerjaan untuk menghidupi anakku satu-satunya yang bernama Rita. Sedangkan dari kantor suamiku tidak ada pensiun, yang ada hanya klaim kematian dari perusahaan asuransi yang besarnya hanya cukup untuk 3 bulan saja ditambah sedikit uang dari para pelayat yang datang ketika melayat.
Itulah sebabnya aku rajin meminjam koran dari tetanggaku untuk mencari lowongan pekerjaan yang bisa kiranya mencukupi kebutuhan jasmani aku dan anakku. Sampai pada akhirnya aku menemukan iklan membutuhkan tenaga pemijat. Hmm rasanya kalau cuma memijat aku bisa karena nenekku adalah salah satu pemijat yang cukup dikenal di kampung kami dan aku sering bertanya kepada nenekku tentang cara memijit yang benar.
Jam 09.00 pagi itu setelah membersihkan rumah dan masak untuk anakku yang masih sekolah kelas 3 SD takut dia sudah pulang sekolah sebelum aku tiba, aku berangkat ke Panti Pijat yang tertera dalam iklan tersebut.
Setelah berganti 2 kali Metro Mini tanpa menemui kesulitan sedikitpun sampailah aku pada sebuah Ruko 4 lantai dengan tulisan Panti Pijat “KK”.
Dengan berdebar mengingat ini kali pertama aku melamar pekerjaan, aku masuk ke dalam Ruko dan disambut dengan senyum manis 2 orang wanita sebaya denganku.
“Mau melamar yah Mbak?” tanya wanita hitam manis baju hijau muda kepadaku yang agak sedikit nervous.
“Ii.. Iya Mbak” jawabku dengan jantung berdebar.
Ahh kenapa aku jadi grogi pikirku. Toh aku niat baik dengan rencanaku yaitu mendapatkan pekerjaan.
“Silakan naik aja langsung ke lantai 4 Mbak, tangganya disebelah sana” tunjuk wanita berbaju hijau tersebut kearah pojok ruangan.
“Terima kasih Bu.. Ehh Mbak” kataku dengan senyum semanis mungkin.
“Sama-sama” kata wanita yang satunya juga dengan senyum ramahnya.
“Ehh Mbak..” panggil seorang diantara mereka..
Kaget aku menoleh kearah 2 wanita tersebut.
“Pasti Mbak diterima deh” kata wanita berkaos pink sambil memainkan matanya.
“Lho.. Koq tau Mbak?” tanyaku
“Habis Mbak cantik sih” kata mereka hampir bersamaan.
“Terima kasih” kataku dengan pipi memerah karena surprise dengan penilaian mereka terhadap diriku.
Lalu aku melangkah ke arah tangga yang ditunjuk barusan dan terus naik sampai ke lantai 4. Perlahan aku ketok pintu kaca hitam pekat lalu seorang laki-laki berkumis tabal dan berbadan tegap memakai kemeja safari tanpa senyum membukakan pintu kepadaku
“Mau melamar?” tanyanya sambil berjalan ke arah meja kerja.
“Iya” kataku dengan senyum se-relax mungkin.
“Surat lamarannya sudah lengkap? Mana?” katanya tegas.
Aku menyerahkan map yang berisi surat lamaran, ijazah SMP dan fotocopy KK serta KTP. Pria tersebut membuka dan membaca map yang kuserahkan dan membolak-balik isinya dengan cepat lalu menatap kepadaku..
“Silakan masuk ke ruang Aula.. Itu pintunya.. Gabung dengan pelamar lainnya.. Ini nomor urut.. Tunggu sampai nomor kamu dipanggil untuk diwawancara..” katanya sambil menyerahkan nomor urut kepadaku.
“Terima kasih Pak” jawabku sambil melihat nomor urut..
Wah no 38.. Tidak salah nihh banyak sekali rupanya yang melamar pikirku menduga-duga sambil membuka pintu Aula yang dimaksud Bapak tadi. Begitu aku membuka pintu ternyata benar dugaanku ternyata sudah ada puluhan wanita disana. Ada yang sedang duduk dan ada pula yang berdiri sambil mengobrol. Ahaa.. aku lihat di tengah-tengah wanita-wanita muda itu masih ada kursi yang kosong, akupun melangkah pelan sambil senyum dengan orang yang aku lewati.
“Permisi,” kataku kepada orang yang aku lewati.
Ahh nampaknya semua orang tidak bersahabat sekali denganku.. Tidak ada yang membalas senyumanku, untunglah dibawah tadi ada 2 wanita receptionist yang ramah kepadaku, kalau mereka tidak ramah, mungkin aku sudah kabur pulang kataku dalam hati sambil tertawa kecil.
Wah nambah terus nihh pelamar ketika kulihat ada sekaligus 3 orang wanita datang. Sementara itu bersamaan dengan yang datang ada pula yang keluar dari sebuah ruangan kaca tertutup. Ohh mungkin itu ruangan wawancaranya pikirku.
Cukup lama aku menunggu lebih dari 2 jam, akhirnya nomorku dipanggil oleh seorang pria keturunan India atau arab aku tidak tahu. Kembali jantungku berdebar mendengar nomorku dipanggil, pelan aku melangkah ke arahnya ke arah ruangan kaca yang tertutup tirai dan nampaknya tidak ada celah untuk mengintip itu.
“Silakan masuk” kata pria tersebut sambil memperhatikan buah dadaku yang tertutup dengan blazer batik pemberian suamiku ketika pulang dari Yogyakarta beberapa bulan sebelum kematiannya.
“Terima kasih” kataku sambil masuk ruangan dan langsung mataku menyapu ruangan sejuk didalamnya.
Nampak 1 orang pria lainnya sedang dipijit di kasur kecil oleh wanita pelamar yang sebelumnya sudah dipanggil lebih dulu dariku.
“Silakan duduk” kata pria yang tadi memanggil nomorku dan aku duduk hampir berbarengan dengan dia di sofa tunggal yang tersedia.
“Fahmi” katanya menyodorkan tangannya.
“Yunita” kataku menyambut tangannya.
Kami bersalaman. Lalu dia membuka map yang tadi aku serahkan kepada pria yang didepan tadi (mungkin bagian keamanan si bapak tadi yah?). Fahmi begitu tadi dia memperkenalkan diri membaca dengan seksama Lamaran Kerjaku sambil sesekali melirik kearahku.
“Anak kamu berapa?” tanyanya.
“Satu Pak” kataku memberanikan diri menatapnya.
“Suami kamu kerja?” tanyanya lagi.
“Sudah meninggal 3 bulan yang lalu karena kecelakaan Pak” kataku tapi mataku tidak berani menatap matanya.
Mataku hanya mengarah ke map yang ditangannya. Matanya itu loh menatap tajam kearah payudaraku yang sedikit terbuka karena aku duduk agak kedepan. Sial pikirku kenapa aku tadi pakai kaos tipis longgar begini, walaupun pakai blazer tetap saja kaos ini tidak bisa menjaga payudaraku ukuran 36 ini.
Lagi asyik mikir-mikir baju kaosku ketika itulah aku kaget sekali karena lemari buku yang disampingku tiba-tiba bergesar terbuka dan muncul seseorang agak botak berbadan tinggi besar muncul dan langsung melihatku. Wuih hebat juga lemari ini ternyata bukan sekedar lemari tetapi juga berfungsi sebagai pintu pikirku.
Aku tersenyum kepada lelaki yang baru keluar dari “lemari” tersebut, kutaksir umurnya sekitar 50 tahun dengan rambut agak tipis mendekati botak namun cukup tampan tetapi tetap keturunan timur tengah seperti Fahmi.
“Fahmi, masih banyak pelamar?” tanyanya dengan suara berat kepada fahmi tapi matanya sama saja dengan fahmi menatap tajam ke arah dadaku. Dasar laki-laki kenapa selalu payudara saja tujuan matanya.
“Masih sekitar 30 orang lagi Bang dan saya sudah perintahkan kepada Satpam untuk tidak menerima lagi hari ini para pelamar” Kata Fahmi kepada orang yang dipanggil Abang tadi.
“Ya sudah kalau begitu nona ini biar saya wawancarai dan kau panggil yang lain” katanya dengan berwibawa.
“Baik Bang” Kata Fahmi sambil menyerahkan Map lamaran aku kepada si Abang.
“Mari” kata si Abang berjalan didepanku..
Aku mengikuti dari belakang menuju ruangan yang pintunya dari lemari tersebut. Wahh tinggiku cuma seketeknya.. Dan lebar badanku cuma setengah badannya.. Aku tertawa dalam hati membandingkan tubuhku dengan tubuhnya. Kemudian si Abang tadi berbalik dan menutup pintu yang sekaligus berfungsi sebagai lemari kalau dilihat dari dari luar.

Kamis, 26 Desember 2013

Cerita Sex Ngentot Tante Dewi Tetangga Kost Baruku Haus Sex

Cerita Sex Ngentot Tante Dewi Tetangga Kost Baruku Haus Sex
Cerita Sex Ngentot Tante Dewi Tetangga Kost Baruku Haus Sex – Namaku Beni. Sekarang saya berkerja di salah satu kantor swasta di kota S. Dulu aku tinggal bersama kedua orang tuaku di sebuah kompleks perumahan yang amat membosankan sehingga aku memutuskan untuk mandiri dengan menghuni kamar kostan milik dari saudaraku yang baru menikah sehingga dia di boyong oleh suaminya ke Surabaya . Sebagai gambaran kostanku terdiri dari 3 lantai lantai pertama dihuni pemilik kosanku yang sekaligus rumah utama pemilik kostan , sedang lantai kedua dihuni oleh anak kost baik itu cowok ato cewek secara kostanku adalah kostan campur , sedang untuk lantai ketiga tempat pemilik kost menaruh alat2 fitnes sebagai salah satu fasilitas yang diberikan kepada anak2 kost dan ada 3 kamar kost yang salah satunya aku tinggali .
Hari pertama aku menghuni aku lapor dengan Pemilik kostan dimana aku tinggal , beliau kebetulan tinggal di lantai 1 sedangkan aku di lantai 3 . Setelah melapor aku dimohon bantuannya untuk menjaga kebetulan adik perempuan beliau tinggal disebelahku yaitu Tante Dewi . Hari kedua aku mencoba untuk berkenalan dengan Tante Dewi , ternyata beliaudia tidak terlalu tua , kelihatannya sekitar 30 – 31 tahunan . Orangnya ramah dan baik sekali . Yang aku heran sampai umur segitu dia belum menikah , mungkin punya masalah dengan karir yang bagus sehingga dia harus konsen dengan karirnya . Berikut adalah pengalamanku diwaktu tidak terduga . Sekedar gambaran , Tante Dewi mempunyai tinggi badan sekitar 167 cm , mempunyai pinggul yang besar , buah pantat yang bulat , pinggang yang ramping , dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic , fitness , dan renang yang diikutinya secara berkala) , dengan didukung oleh buah dada yang besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Dewi memakai Bra ukuran 36B untuk menutupinya) . Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih bersih , wajarlah jika Tante Dewi menjadi impian banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang .
Hingga pada suatu sore , saat saya pulang kerja saya mendengar ada ketukan pintu di kamarku , kemudian saya intip dari jendela kamarku ternya Tante Dewi . “eh ya ada apa Tante girang”>Tante” kataku sambil membuka pintu . “Ngga Ben ada koran edisi hari ini gak ?” . “Sepertinya ngga ada Tante” jawabku “Eh aku numpang ke kamar mandimu ya” sambil meringis , mungkin dia udah kebelet pipis he he he . “silahkan Tante tapi kamar mandinya ngga sebersih punya Tante lho maklum bujangan” kataku sambil tertawa . ” Ngga apa apa” jawabnya . baru aku sadar bahwa Tante Dewi memakai baju training tipis mungkin habis fitness di depan . “Abis fittnes ya Tante , koq gak pake kamar mandi Tante Dewi sendiri ? ?” tanyaku “Iya tadi maunya kekamar kuncinya lagi macet” ujar Tante Dewi sambil ngeloyor ke kamar mandiku . Sambil jalan ke dalam kamar aku berfikir kok kayaknya ada yang salah ya dengan membiarkan si Tante ke kamar mandi tapi apa ya ? . Ya ampun tadi khan aku lagi nonton BF di laptop memang kebetulan mau coli sih maklum belum ada pasangan/pacar . Wah mati gue ketahuan dah sama Tante Dewi . Ah bodoamatbodo amat kaya dia ngga pernah muda aja . Begitu keluar dari kamar mandi si Tante senyum-senyum , wah malu deh aku . “Hayo kamu tadi lagi ngapain Ben ? tanya si Tante . “Ngga ngapa-ngapain kok Tante” jawabku sambil menunduk kebawah , Malu cing . Dan tanpa saya sadari tiba-tiba dia mencekal tangan saya . “Ben . .” katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu .
“Ya Tante . . ?” Jawab saya . “Eee . . nggak jadi deh . .” Jawabnya ragu-ragu . “Ada yang bisa saya bantu , Tante . . ? Tanya saya agak bingung karena melihat keragu- raguannya . “Eee . . nggak kok . Tante cuma mau nanya . .” jawabnya dengan ragu- ragu lagi . “Kamu sering ya nonton film itu di kamar mandi . . ?” tanya dia . “Iya sih Tante . Maklum Tante belum punya pasangan . . ?” jawab ku terpaksa . “Terus pake sabun ya ? he he he kata Tante Dewi sambil tertawa “Iya Tante , udah ah aku tengsin nih malu ditanya terus” Tegasku sambil ngomel . “Jangan marah dong , biasa lagi bujangan yang penting jangan main pelacur , jorok nanti kena penyakit” jawab Tante Dewi . “Eee . . mau dibantuin Tante nggak . . ? sambungnya “Maksud Tante ? Tanya ku wah ibarat ada lanjutan dari film ku tadi nih . Kayaknya si Tante horni abis . ” Iya kamu nonton bareng Tante khan biar ngga malu lagi” sambil melayang tangan Tante Dewi ke selangkangan ku . “sana ambil laptop mu” asik banget dah pikirku tanpa tendeng aling-aling aku berlari kekamar mandi dan membawa keluar laptop itu .
Kemudian aku setel lebih dulu film yang tadi saya tonton dan belum habis . Beberapa menit kemudian Tante Dewi duduk disebelahku sambil membawa teh panas dengan wangi tubuh yang segar . Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang masih terbalut baju training dan kemudian dia melepas atasannya sehingga terlihat tanktop tipis biru muda yang agak menerawang tersebut , sehingga dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya karena dia tidak memakai Bra . Tanpa kusadari , di antara degupan jantungku yang terasa mulai keras dan kencang , kejantananku juga sudah mulai menegang . Dengan santai dia duduk tepat di sebelahku , dan ikut menonton film BF yang sedang berlangsung . “Cakep- cakep juga yang main . .” akhirnya dia memberi komentarnya . “Dari kapan Ben mulai nonton film beginian . . ? tanyanya . “Udah dari dulu Tante . .” kataku . “Mainnya juga bagus dan tidak kasar . Beni udah tahu rasanya belum . . ? tanya dia lagi . “Ya sempet sih Tante waktu masih kuliah dulu sama pacarku” “wah enak dong ” “Iya tapi udah lama Tante udah lupa rasanya , tapi kata temen-temen sih enak . Emang kenapa Tante , mau ngajarin saya yah ? Kalau iya boleh juga sih” , kataku . “Ah Beni ini kok jadi nakal yah sekarang” , katanya sambil mencubit lenganku . “Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu tahu rasanya” , tambahnya dengan sambil melirik ke arahku dengan agak menantang . Tidak lama berselang , tiba-tiba Tante Dewi menyenderkan kepalanya ke bahuku . Seketika itu pula aku langsung membara . Tapi aku hanya bisa pasrah saja oleh perlakuannya . Sebentar kemudian tangan Tante Dewi sudah mulai mengusap-ngusap daerah tubuhku sekitar dada dan perut . Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membuat aku nervous karena itu adalah kali pertama aku diperlakukan oleh seorang wanita yang usianya diatasku . Kejantananku sudah mulai semakin berdenyut-denyut siap bertempur . Kemudian Tante Dewi mulai menciumi leherku , lalu turun ke bawah sampai dadaku . Sampai di daerah dada , dia menjilat-jilat ujung dadaku , secara bergantian kanan dan kiri . Tangan kanan Tante Dewi juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku , dan mulai mengusap- usap kejantananku . Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang , aku mulai memberanikan diri untuk meraba celana yang dia pakai . Aku remas payudaranya dari luar tanktop , dan aku remas-remas , terkadang aku juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku . “Ssshh . . ya situ Ben . .” katanya setengah berbisik . “Ssshh . . oohh . .” Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku , dan diusapnya kejantananku . Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat membara . Dan dia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku . Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya melalui celana trainingnya yang aku pelorotkan ke bawah sampai pada permukaan celana dalamnya , yang rupanya sudah mulai menghangat dan agak lembab . Aku melepaskan celana dalam Tante Dewi . Satu persatu kami membuka baju , sehingga kami berdua menjadi telanjang bulat . Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya . Dia kelihatan agak kaget ketika merasakan jariku bermain di daerah seputar klitorisnya . Lama kelamaan Aku masukkan satu jariku , lalu jari kedua . “Aaahh . . sshh . . oohh . . terus Ben . . terus . .” bisik Tante Dewi . Ketika jariku terasa mengenai akhir lubangnya , tubuhnya terlihat agak bergetar . “Ya . . terus Ben . . terus . . aahh . . sshh . . oohh . . aahh . . terus . . sebentar lagi . . teruuss . . oohh . . aahh . . aarrgghh . .” kata Tante Dewi . Seketika itu pula dia memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu . Aku merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian baru aku tahu bahwa dia sedang mengalami orgasme) . Beberapa saat tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya . Yang diakhiri dengan terkulainya tubuh Tante Dewi yang terlihat sangat lemas di sofa .
“Saya kapan Tante , kan saya belum . . ?” Rujukku . “Nanti dulu yah sayang , sebentar . . beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja” , kata Tante Dewi . Tapi karena sudah sangat terangsang , kuusap-usap bibir kemaluannya sampai mengenai klitorisnya , aku dekati payudaranya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya , sesekali kuremas payudara yang satunya . Sehingga rupanya Tante Dewi juga tidak tahan menerima paksaan rangsangan-rangsangan yang kulakukan terhadapnya . Sehingga sesekali terdengar suara erangan dan desisan dari mulutnya yang seksi . Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas . Sehingga kemudian dengan terpaksa dia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya . Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua . Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Dewi . “Ssshh . .” rasanya benar- benar tidak bisa kubayangkan sebelumnya . Lalu Tante Dewi mulai menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan . “Aaahh . .” baru masuk kepalanya saja aku sudah tidak tahan , lalu Tante Dewi mulai menarik pantatku ke bawah , supaya batang kejantananku yang perkasa ini bisa masuk lebih dalam . Bagian dalam kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah , tapi masih agak seret , mungkin karena sudah lama tidak dipergunakan . Namun Tante Dewi tetap memaksakannya masuk . “Aaagghh . .Beni ” rasanya memang benar-benar luar biasa walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu , tapi nikmatnya luar biasa . Lalu terdengar suara erangan Tante Dewi . Lalu Tante Dewi mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam kewanitaannya , yang membuatku semakin gila . Ia sendiri pun mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan . Beberapa menit kami begitu hingga suatu saat , seperti ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya bertambah licin , dan makin lama Tante Dewi terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang membuat dia berteriak dan mengerang dengan sejadi- jadinya karena tidak kuasa menahannya . Dan tiba-tiba kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang kewanitaan Tante Dewi , yang tiba-tiba dinding- dinding kewanitaannya terasa seperti menjepit dengan kuat sekali . Aduuh . . kalau begini aku makin tidak tahan dan . . “Aaarrgghh . . sayaang . . Tante keluar lagii . .” jeritnya dengan keras , dan makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Dewi , tubuhnya mengejang kuat seperti kesetrum , ia benar-benar menggelinjang hebat , membuat gerakannya semakin tak karuan . Dan akhirnya Tante Dewi terkulai lemas , tapi kejantananku masih tetap tertancap dengan mantap . Aku mencoba membuatnya terangsang kembali karena aku belum apa-apa . Tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan , sambil sesekali kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku . Sedang payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku . “Ssshh . . shh . .” desahan Tante Dewi sudah mulai terdengar lagi . Aku memintanya untuk berganti posisi dengan doggy style . Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya , pelan tapi pasti . Kepala Tante Dewi agak menengok ke belakang dan matanya melihat mataku dengan sayu , sambil dia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul . Sedikit demi sedikit aku coba untuk menekannya lebih dalam . Kejantananku terlihat sudah tertelan semuanya di dalam kewanitaan Tante Dewi , lalu aku mulai menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil menggenggam buah pantatnya yang bulat . Dengan gaya seperti ini , desahan dan erangannya lebih keras , tidak seperti gaya konvensional yang tadi . Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas payudaranya , sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya agar terlihat lebih merangsang dan seksi . “Ssshh . . aarrgghh . . oohh . . terus Bram . . terus . . aarrgghh . . oohh . .” Tante Dewi terus mengerang . Beberapa menit berlalu , kemudian Tante Dewi merasa akan orgasme lagi sambil mengerang dengan sangat keras sehingga tubuhnya mengejang-ngejang dengan sangat hebat , dan tangannya mengenggam bantalan sofa dengan sangat erat . Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya jatuh terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya agar tetap di atas . Dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan aku memberitahukan hal tersebut padanya , tapi dia tidak menjawab sepatah kata pun . Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan kecil , sehingga aku tidak berhenti menggerakkan pinggulku terus . Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang tertahan , sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku , tanganku menggenggam buah pantat Tante Dewi dengan erat , yang kemudian diikuti oleh keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Dewi . Tubuhku terasa sangat lemas sekali . Setelah kami berdua merasa agak tenang , aku melepaskan kejantananku dari liang nikmat milik Tante Dewi . Dengan raca kecapaian yang luar biasa Tante Dewi membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak terbuka , sambil tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya . “Wah kok ngga ditarik sih Ben , nanti aku hamil lho . . ? tanyanya dengan suara yang agak bergetar . “Maaf Tante aku lupa abis keenakan sih” jawabku “Ya sudahlah . . tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu langsung buru-buru dicabut dan dikeluarkan di luar ya . . ?” katanya menenangkan diriku yang terlihat takut . “I . . iiya Tante . .” jawabku sambil menunduk . “Ya santai aja aku sebenarnya udah minum pil kok Ben” jawab Tante Dewi . Wah rupanya nih Tante Dewi udah pengalaman dalam hal beginian , tapi ngga apa-apa dah , gua belagak culun aja.

Download Lagu Oplosan Dan Simalakama Soimah

Download Lagu Oplosan Dan Simalakama Soimah - kali ini saya mau bagikan informasi Lagu Simalakama Soimah Mp3 YKS yang saat ini lagi tenar-tenanya dinyanyikan cesar,soimah,dan teman-teman.Tayangan YKS banyak menyajikan lagu-lagu dengan goyangan yang menarik dan membuat semua penonton juga ikut berjoget diacaranya.Setiap harinya acara YKS ini selalu hadir dimalam hari untuk ditonton oleh semua penggemar acara Yukk Keep Smile!!!.
Lagu Simalakama Soimah Mp3 YKS
Lagu YKS ini mungkin menarik jika kita sudah punya lagu Mp3nya di handphone atau dismartphone kita,apalagi kalau sudah diputarkan lagunya sangat menarik sekali dan membuat yang mendengar juga ikut bergoyang.Jadi lagu YKS ini yang berjudul Simalakama versi Soimah bisa langsung diputar dari Mp3nya.

Berikut untuk Lagu Simalakama Soimah Mp3 YKS yang ada di TRANS TV :
http://www.4shared.com/mp3/f2W6gn5t/soimah_simalakama.html
http://www.4shared.com/mp3/OF9rujzw/Simalakama-Soimah_With_IDEA_pe.html
http://www.4shared.com/mp3/3zru0oMU/Soimah__Cesar_-_Simalakama__OS.html
http://www.4shared.com/mp3/f2W6gn5t/soimah_simalakama.htm
Itu link untuk lagi Simalakama versi Soimah YKSnya mudahan lagunya menarik dan membuat hati senang ketika diputar dan dimainkan.
Semoga bermanfaat lagu-lagu YKSnya :) 

Senin, 02 Desember 2013

Cerita Dewasa Kisah Putri Keraton Singosari

Cerita Dewasa Kisah Putri Keraton Singosari
Cerita Dewasa Kisah Putri Keraton Singosari – Siang itu tampak rombongan pemburu berkuda tengah berkeliaran dilereng Gunung Arjuna. Rombongan itu terdiri dari dua orang gadis cantik dan empat orang prajurit pengawal. Dua orang gadis itu adalah Putri dari Kerajaan Singosari. Dua orang putri ini sudah sangat terkenal kecantikannya sampai ke pelosok negeri.
Apalagi putri yang pertama, yaitu Putri Tribuana Tungga Dewi yang berumur 19 tahun. Putri Tribuana memiliki bentuk tubuh tinggi semampai dengan buah dada yang sedang ranum-ranumnya. Wajahnya agak lonjong dengan bibir tipis yang menggairahkan, serta mata yang bening dan hidung yang mancung. Rambutnya yang lurus dan panjangnya sampai
punggung. Putri Tribuana memakai celana panjang berwarna hijau, sementara dipinggangnya melilit kain sebatas lutut yang sangat indah. Banyak sekali pangeran-pangeran dari kerajaan tetangga yang tergila-gila dan berusaha melamar, tapi Putri Tribuana selalu menolaknya. Putri yang satu adalah adik dari Putri Tribuana yang bernama Putri Ayu Pualam.
Putri Ayu baru berusia 15 tahun, tapi kecantikannya tidak kalah dengan kakaknya. Kulitnya putih mulus seperti susu, dengan buah dada yang tidak begitu besar, tapi sudah terlihat menonjol. Wajahnya selalu ceria dengan bibir mungil yang selalu tampak basah kemerah-merahan. Putri Ayu Pualam tampak anggun duduk diatas kuda sambil tangannya memegang busur dan anak panah. Dua orang putri kerajaan itu memang gemar sekali berburu dan berpetualang. Kalau sudah berburu kadang sampai berhari hari.
Kali ini rombongan Tuan Putri tampak masuk jauh ke dalam hutan di lereng Gunung Arjuna. Kedua putri itu tampaknya penasaran dengan sepinya binatang buruan. Tidak sadar bahwa hutan semakin lebat dan gelap. “Tuan putri, maafkan hamba, tampaknya hari menjelang gelap, sebaiknya kita segera mendirikan tenda, agaknya kita terpaksa menginap di hutan ini.” seorang prajurit berkata sambil jongkok menyembah. “Baiklah, agaknya kita harus menginap di sini Nimas Ayu.” Putri Tribuana memandang adiknya. Putri Ayu Pualam hanya mengangguk, lalu meloncat turun dari kudanya.
Malam itu Kedua putri itu tidur dalam satu tenda, sementara di luar tampak para prajurit berjaga secara bergiliran. Tanpa mereka ketahui, dari jauh tampak beberapa pasang mata mengawasi mereka. Mereka adalah para perampok yang kebetulan juga menginap di hutan itu, jumlah mereka 4 orang. Yang paling depan tampaknya pemimpin mereka, tubuhnya tinggi besar, mukanya penuh brewok dan cambang yang tidak terurus.
“Siapa mereka kakang? kayaknya putri keraton. Wadoh.. doh.. dooh ..cantik-cantik lagi.”
“Hmm.. kalau dak salah, mereka itu dua orang putri dari Singosari yang sangat terkenal kemolekannya itu.” Si brewok bergumam.
“He..he..he.., malam ini kita akan pesta”
“Hah.. Gila kau, Kang! Kalau benar dia putri dari Singosari, sama saja kita cari penyakit. Sang Prabu Singasari pasti akan sangat marah, dan memerintahkan pasukannya untuk membunuh kita”.
“Ah, goblok!! kita kan bisa lari ke Kediri, pasukan Singasari tidak akan berani mengubek-ubek Kediri. Atau kemanalah, pokoknya tidak di Singasari.”
“Iya Kang, kapan lagi kita bisa menikmati tubuh putri keraton yang sudah sangat terkenal kecantikannya itu.” Perampok yang lain menyahut sambil jakunnya turun naik.
Akhirnya keempat perampok itu sepakat. Maka disusunlah rencana. Keempat prajurut pengawal itu harus dibunuh dulu dengan serangan mendadak yang dilakukan bersamaan. Satu orang membunuh satu prajurit. Keempat perampok itu mempunyai ilmu kanuragan yang lumayan, dengan ilmu meringankan tubuh mereka dengan hati-hati mendekat dengan menyelinap diantara rimbunan semak dan batang pohon. Si brewok memberi isyarat, maka serentak keempat perampok itu dengan golok terhunus menerkam prajurit pengawal itu.
“Wuut.. wuut.. creess.. creess” Dua orang prajurit yang sedang tidur tanpa kesulitan mereka tebas batang lehernya sampai putus. Sementara dua orang prajurit yang sedang berjaga sempat memberikan perlawanan. Tapi akhirnya mereka roboh juga dengan perut robek dan dada tertembus golok.
“Hei, pengawal. Apa yang terjadi di luar?” Putri Tribuana dan Putri Ayu Pualam meloncat keluar sambil membawa pedang.
Tapi begitu sampai di luar tenda, Putri Tribuana ditubruk oleh dua orang perampok hingga jatuh terguling. Putri Tribuana menjerit, sementara pedangnya terlepas dari tangannya. Perampok itu mendekap tubuhnya dari belakang dengan sangat erat.
“Aduhh, hei.. lepaskan!! Apa kalian tidak tahu kami adalah putri dari kerajaan Singasari!!”
“Heh.. heh.. heh.., siapa yang tidak tahu bahwa paduka adalah putri dari Singasari. Tapi justru itu kami ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya bersetubuh dengan putri keraton. Wuaahh.. pasti nikmat sekali.. waduuh.. nggak sabar aku heh.. heh.. heh.”
“Kalian gila!! Kalian bisa disiksa dan dipancung kalau kalian tetap nekat.”
“Heh.. heh.. kami rela dipancung kok, asal bisa menikmati tubuh tuan putri.” kata perampok yang satu sambil tangannya secara kurang ajar meremas-remas payudara Putri Tribuana yang masih tertutup baju.
Sementara perampok yang mendekapnya berusaha mencium pipi sang putri yang putih mulus itu dari belakang.
“Bangsat!! Lepaskan aku, lepaskan!!” Putri Tribuana meronta-ronta.
Biarpun sang putri meronta-ronta sekuat tenaga, tapi tetap saja tenaganya kalah kuat. Akhirnya Putri Tribuana lemas sendiri. Seorang perampok memasukkan tangannya ke dalam baju sang putri, tangannya yang kasar menemukan gundukan kenyal dengan puting ditengahnya.
“Woouu.. kenyal sekali susunya, masih kenceng lagi.” perampok itu dengan gemas meremas-remas payudara Putri Tribuana.
Sementara nasib Putri Ayu Pualam tidak jauh berbeda. Sang Putri sudah tidak berdaya dalam dekapan kuat Si brewok.
“Kakang, kita bawa ke mana mereka? Tak jauh dari sini ada gubuk kosong, kita bawa ke sana mereka. Totok dulu mereka”
Dua orang putri itu ditotok syarafnya sehingga tidak bisa bergerak. Lalu mereka dipanggul di pundak dan dibawa masuk lagi kedalam hutan. Gubuk itu tidak begitu luas, hanya mempunyai satu ruangan. Di dalamnya tidak ada tempat tidur, tapi ada beberapa tikar pandan. Putri Tribuana Tungga Dewi dan Putri Ayu Pualam ditidurkan di lantai dengan alas tikar pandan.
“Wahh.. mimpi apa aku semalam, pasti mereka masih perawan” kata seorang perampok sambil tangannya mulai membuka pakaian putri Tribuana.
Putri Tribuana hanya bisa menangis. Seorang perampok lalu menarik pakaian bawah Putri Tribuana hingga lepas. Perampok itu melotot memandang paha Putri Tribuana Tungga Dewi yang putih mulus karena selalu dirawat setiap hari. Sementara ‘Veggy’nya yang bersih ditumbuhi bulu-bulu yang tidak begitu lebat.
“Waduuhh.. sampek gemeteran tanganku nyentuh paha putri keraton yang putih mulus ini” tangan perampok itu tampak agak gemetar waktu mengelus dan meraba-raba paha putri Tribuana.
Lalu menciumi paha yang mulus itu dengan nafas agak memburu. Mulut dan pipi perampok itu seakan ingin juga merasakan kemulusan dan kehangatan paha Putri Tribuana. Sementara perampok yang satunya mulai membuka pakaian atasnya hingga terlepas semua. Putri Tribuana sudah telanjang bulat. Payudaranya yang sedang ranum-ranumnya itu kelihatan montok, dengan puting yang berwarna kemerah-merahan.
“Waduh.. duh.. duuhh.. Elok tenan payudara Putri Tribuana.”
Tangan kasar perampok itu lalu meremas-remas payudara montok Putri Tribuana dengan gemas. Puting payudara itu kadang dipilin-pilin dengan jari-jarinya. Lalu dia mulai menjilati puting susu yang kemerah-merahan itu. Perampok itu mulai menyedot-nyedot payudara kanan yang ranum milik Putri Tribuana, sementara tangan kanannya meremas-remas payudara yang kiri.
“Mmmaahh.. cuupp.. cuup.. wah.. kenyal banget”
Putri Tribuana hanya bisa terisak ketika perampok yang satu mulai mengelus-elus ‘Veggy’nya. ‘Veggy’ yang selama ini dia rawat setiap hari, sehingga ‘Veggy’ itu selalu bersih mempunyai bau harum yang khas. Perampok itu membuka paha Putri Tribuana lebar-lebar, sehingga belahan ‘Veggy’ yang kemerah-merahan itu kelihatan. Perampok itu mengelus-elus belahan ‘Veggy’ itu dengan jari-jari tangannya dari bawah ke atas hingga menemukan kelentit sang putri. Setelah beberapa saat mempermainkan kelentitnya, lalu perampok itu mulai menjilati dan menciumi kelentit dan ‘Veggy’ Putri Tribuana.
“Aumm.. cuupp.. waahh harum sekali ‘Veggy’ Paduka.”
Cukup lama perampok itu menjilati ‘Veggy’ dan kelentit sang putri. Sementara Putri Tribuana tanpa sadar merintih dalam tangisnya. Perampok itu tampak makin terangsang dan bersemangat melihat Putri Tribuana merintih. Lidahnya menjelajahi permukaan ‘Veggy’ yang kemerah- merahan. Lidah itu lalu menelusuri belahan ‘Veggy’ Putri Tribuana. Belahan ‘Veggy’ yang sudah mulai basah itu dijilat dan dikecup.
“Ahh.. cuupp.. cuupp..” Putri Tribuana tampak menggeliat dan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika lidah perampok itu menjilati klitorisnya.
Daging kecil sebesar kacang itu semakin membesar ketika perampok itu mengecup dan menyedot-nyedot dengan bibirnya. Sementara ‘Veggy’nya semakin basah oleh cairan yang keluar dari dalam.
Sementara itu, Putri Ayu Pualam juga bernasib sama dengan kakaknya. Seorang perampok tampak meremas-remas payudara Putri Ayu Pualam. Payudara Putri Ayu Pualam tidak begitu besar, tapi sudah mulai menonjol. Sementara puting susunya agak kecil berwarna merah muda. Perampok itu tampak nafsu sekali meremas susu setengah ranum itu. Kadang mulutnya menyedut-nyedot puting susunya, lalu tangan yang satunya memilin-milin puting susu satunya. Sementara si brewok mulai melepas pakaian bawah Putri Ayu Pualam. Hingga kini Putri Ayu Pualam telanjang bulat.
Putri Ayu Pualam yang baru berumur 15 tahun itu hanya bisa menangis.
Putri Ayu Pualam yang baru berumur 15 tahun itu hanya bisa menangis. Tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat itu di gerayangi dua orang perampok. ‘Veggy’ Putri Ayu Pualam tampak menggembung mulus tanpa ditumbuhi bulu sedikitpun. Si brewok tidak sabar lalu menjilati ‘Veggy’ mulus itu, ‘Veggy’ Putri Ayu Pualam dijelajahi seluruhnya oleh lidah si brewok, lalu si brewok mulai menghisap hisap ‘Veggy’ itu. Putri Ayu Pualam merintih perlahan, dia tak kuasa menahan gejolak dan rangsangan yang muncul. Si brewok lalu membuka lebar-lebar paha Putri Ayu Pualam. Mulutnya mengecup-ngecup ‘Veggy’ Putri Ayu Pualam yang tampak menggembung. Lalu klitoris yang kemerahan milik putri juga di jilati dan dihisap-hisap dengan semangatnya.
“Mmmaahh.. cuup.. cuupp.. edan tenan, bener-bener daun muda ini, putri keraton lagi.”
Sementara dua orang perampok yang menggarap Putri Tribuana Tungga Dewi mulai melepas pakaian mereka hingga telanjang bulat. Penis mereka sudah berdiri tegang. Putri Tribuana tak bisa berbuat apa-apa ketika seorang perampok menciumi wajahnya. Pipinya dicium dan dikecup-kecup, lalu bibirnya yang merah merekah dilumat oleh bibir perampok itu.
“Mmmaahh keraton Singosari.”
Sang putri tidak bisa melawan ketika tangannya dengan dipegangi perampok itu dibimbing meremas-remas ‘Mr. Penny’nya.
“Ahh.. enak sekali paduka.. yahhk..hangat dan empuk tangan tuan putri.” Perampok itu merem-melek keenakan ‘Mr. Penny’nya diremas-remas tangan Putri Tribuana, sementara perampok itu tetap meremas-remas payudara indah putri Tribuana.
“Kang, aku perawani ya, Putri ini.”
Perampok yang satunya tampak menggosok-gosokkan ‘Mr. Penny’nya yang sudah tegang di belahan ‘Veggy’ Putri Tribuana. ‘Mr. Penny’ yang hitam tapi tidak begitu panjang itu (kira-kira12 cm) menyusuri belahan ‘Veggy’ yang sudah basah dari bawah ke atas berulang ulang.
“Iya cepetan, gantian aku nanti. Wah.. wah.. wah.., Pangeran sejagat harus ngantri untuk dapat bersalaman dengan Putri Tribuana, ehh.. kita ini perampok jalanan malah bisa menikmati tubuhnya sepuas-puasnya.”
“Iya kang, beruntung bener ‘Mr. Penny’ku bisa masuk ke ‘Veggy’ Putri Tribuana.” katanya sambil mulai memasukkan ‘Mr. Penny’nya ke lobang ‘Veggy’ Putri Tribuana.
‘Mr. Penny’ itu agak susah masuknya, sambil tangannya memegangi perut sang putri, perampok itu penekan kuat tapi perlahan. Putri Tribuana meringis ketika kepala ‘Mr. Penny’ perampok itu mulai masuk ke dalam lubang ‘Veggy’nya. Putri Tribuana menjerit ketika perampok itu semakin menekan kedalam ‘Mr. Penny’nya.
“Waduh.. alot kang, susah masuknya.”
“Iya, namanya juga masih perawan, tekan aja terus.”
‘Mr. Penny’ perampok itu sudah terbenam separoh di dalam ‘Veggy’ Putri Tribuana. Lalu perampok itu menarik sedikit ‘Mr. Penny’nya, lalu dimasukkan lagi. Setelah berulang-ulang akhirnya ‘Mr. Penny’ itu terbenam semuanya. Perampok itu berhenti mengambil napas. Kemudian dia mulai mengocok ‘Mr. Penny’nya keluar-masuk ‘Veggy’ perlahan-lahan. Agaknya dia ingin menikmati gesekan ‘Mr. Penny’nya dengan dinding ‘Veggy’ Putri Tribuana Tungga Dewi.
“Ahh.. sshh..enak tenan ‘Veggy’ tuan putri, hangat, masih rapet lagi, ahh.. sshh..oouuhh “
Perampok itu perlahan-lahan mulai mempercepat gerakannya. ‘Mr. Penny’ yang hitam itu mulai bergerak cepat keluar masuk ‘Veggy’ Putri Tribuana yang putih kemerahan. ‘Veggy’ itu menjepit ‘Mr. Penny’ hitam itu dengan ketat.
“Ahh.. oouuhh.. sshh..” Perampok itu mendesis desis keenakan.
Sementara itu si brewok juga sudah telanjang. ‘Mr. Penny’nya yang hitam tidak begitu besar tapi agak panjang. Si brewok tampak kesulitan memasukkan ‘Mr. Penny’nya ke ‘Veggy’ Putri Ayu Pualam yang sudah kemerah-merahan itu akibat ciuman dan kecupan-kecupan si brewok. Setelah agak lama, akhirnya si brewok berhasil juga memasukkan ‘Mr. Penny’nya sampai seperoh di ‘Veggy’ putri Ayu Pualam. ‘Veggy’ Putri Ayu Pualam tampak menjepit erat ‘Mr. Penny’ si brewok. Si brewok tampak diam merem-melek menikmati jepitan ‘Veggy’ putri Ayu Pualam. Putri Ayu Pualam menjerit keras ketika dengan buasnya si brewok menekan kuat-kuat ‘Mr. Penny’nya. Si brewok lalu dengan buasnya mengocok ‘Mr. Penny’nya keluar masuk.
“Ahh..oohh.. mmhh..” mulut si brewok mendesis-desis keenakan.
Sementara perampok yang menyetubuhi Putri Tribuana semakin cepat gerakannya.
“Ahh.. oohh.. oohh.. ahh.. ahh..” ‘Mr. Penny’nya keluar masuk dengan cepat.
Agaknya dia akan orgasme. Putri Tribuana merintih, kepedihannya ia merasakan sensasi luar biasa. Sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tubuhnya mengejang, tangannya yang menggenggam dan mengocok ‘Mr. Penny’ perampok yang satunya tampak meremas kuat dan kocokannya semakin cepat. Sementara perampok yang di kocok ‘Mr. Penny’nya itu tampak merem melek keenakan.
“Ahh.. ss.. terus tuan putri.. ahh yaa.. begituu.. ohh..”
Sementara tangannya tak berhenti meremas-remas buah dada Putri Tribuana. Sementara Gerakan perampok satunya semakin cepat, tubuhnya mengejang, matanya mendelik ketika ‘Mr. Penny’nya menyemburkan sperma ke dalam rahim Putri Tribuana Tungga Dewi.
“Ahh.. aahh.. ohh..” Agak lama ‘Mr. Penny’nya masih terbenam di ‘Veggy’ sang putri.
“Dah, ayo ganti aku! Aku juga pingin ngerasain nikmatnya ‘Veggy’ Putri Tribuana Tungga Dewi. Cepet minggir!”
Perampok satunya tampak tidak sabar. Perampok itu akhirnya mencabut ‘Mr. Penny’nya, lalu menyingkir duduk dipojok ruangan. Perampok satunya lalu mulai memasukkan ‘Mr. Penny’nya yang hitam besar ke ‘Veggy’ Putri Tribuana. “Bleess.., ‘Mr. Penny’ itu amblas seluruhnya ke dalam ‘Veggy’ dengan mudah, karena ‘Veggy’ putri Tribuana sudah sangat licin oleh sperma temannya.
“Ahh.. ahh.. ohh..”
perampok itu langsung tancap gas.’Mr. Penny’nya keluar masuk dengan cepat. Sementara tangannya meremas-remas payudara tuan putri. “Ohh.. sshh.. ahh..” Ketika mendekati klimak, perampok itu mendekap erat tubuh Putri Tribuana, bibirnya mengecup erat bibir sang putri. ‘Mr. Penny’nya mengejang dan berhenti bergerak di dalam ‘Veggy’ Sang Putri. Sambil menekan kuat-kuat ‘Mr. Penny’nya ke ‘Veggy’ Putri Tribuana, perampok itu mencapai klimak dengan menyemburkan banyak sekali sperma ke dalam ‘Veggy’ Putri Tribuana.
Sementara itu si brewok tampak membalikkan tubuh Putri Ayu Pualam sehingga nungging. Lalu dari belakang kemudian si brewok menusukkan ‘Mr. Penny’nya ke ‘Veggy’ sang putri. Dengan posisi itu si brewok makin leluasa mengocok ‘Mr. Penny’nya. Serangannya semakin hebat.
“Ahh.. ahh.. sshh.. ahh..” si brewok merintih rintih keenakan.
“Ahh.. cah ayuu.. sshh.. putri ayuu.. uuhh.. enak sekali. ‘Veggy’mu.. ahh..ohh..”
Si brewok menyemburkan mani banyak sekali ke dalam ‘Veggy’ Putri Ayu Pualam sambil tangannya meremas payudara sang putri.
“Ahh..aahh..”
*****
Malam itu Putri Tribuana Tungga Dewi dan Putri Ayu Pualam digilir secara bergantian oleh keempat perampok itu. Si brewok sampai 3 kali menyetubuhi Putri Ayu Pualam dan 2 kali menyetubuhi Putri Tribuana Tunggadewi.

E N D

Sabtu, 23 November 2013

Cerita Sex Tubuh Tante Reni

Cerita Sex Tubuh Tante Reni
Cerita Sex Tubuh Tante Reni - Saat aku lulus di SD aku mendapat nilai yang sangat memuaskan. Seperti janji ayahku kalau nilaiku baik aku akan dikirim di luar kota yang pendidikannya lebih baik. Disana aku dititipkan dirumah pamanku, om Hari. Dia orang yang sangat kaya raya. Rumahnya sangat megah tapi terletak disebuah desa pinggir kota. Rumahnya terdapat dua lantai dan dilengkapi juga kolam renang yang lumayan besar. Om Hari orangnya sangat sibuk, dia mempunyai istri yang sangat cantik namanya Tante Reni, wajahnya mirip dengan Amara. Dia mempunyai anak yang masih kecil. Tante Reni rajin merawat tubuhnya, walapun dia sudah mempunyai satu anak tubuhnya tetap padat berisi ditunjang dengan payudara yang sangat montok kira kira 34B. Hal itu yang membuatku tertarik akan keindahan serta anugrah dari seorang wanita.
Sesampainya dirumah Om Hari. Aku memasuki pintu rumah yang besar. Disana aku disambut oleh Om Hari dan istrinya. Om Hari menjabat tanganku sedangkan Tante menciumku. Aku agak sungkan dengan perlakuan seperti itu. Pembantu disana disuruh membawakan tasku dan mengantarkan sampai di kamarku. Aku mendapat kamar yang 3 kali lipat dari kamar tidurku dirumah. Setelah itu aku berkeliling rumah melihat kolam renang serta sempat melihat kamar mandi yang tak terbayang olehku. Disana terdapat tempat cuci tangan dengan cermin yang besar wc, bathup, dan dua shower yang satu dengan kaca buram sedangan yang satu dengan kain yang diputarkan membentuk 1/4 lingkaran (sorry aku nggak tahu namanya). Tempat itu masih dalam satu ruangan tanpa penyekat.
Sore hari, aku duduk ditepi kolam. Om Hari datang menghampiriku dia bilang mau pergi keluar kota. Dia juga mohon maaf tidak bisa menemaniku. Kami pun mengantarkan sampai pagar rumah. Setelah itu aku kembali duduk menikmati suasana kolam renang. Tiba tiba dari belakang muncul sosok yang sangat menawan. Tante dengan baluatan piyama menghampiriku.
“Ren kamu suka nggak ama rumah ini”
“Suka banget Tante, kayaknya aku kerasan banget dengan rumah ini tiap sore bisa renang”
“Kamu suka renang, yuk kita renang bareng, pas waktu ini udara sangat panas”
Wahhh kebetulan aku bisa renang ama Tante yang bahenol. Waktu bertemu pertama kali aku cuma bisa membayangkan bentuk tubuhnya waktu renang dengan balutan swimsuit. Tapi ketika dia berdiri. Dia membuka piyamanya. Kontan aku tersedak ketika dia hanya memakai Bikini yang sangat sexy dengan warna yang coklat muda. Model bawahannya G-String.
“Huhuukkk… Aduh Tante aku kira Tante mau telanjang”
“Enak aja kalau kamu, Om bilang kamu suka bercanda”
“Tante nggak malu dilihatin ama satpam Tante, Tante pake bikini seperti ini”
“Ihh ini sudah biasa Tante pake bikini kadang ada orang kampung ngintip Tante”
“Benar Tante… Tapi sayang aku lupa bawa celana renang”
“Ah… Nggak apa apa pake aja dulu celana dalam kamu. Nanti aku suruh bi’ Imah suruh beli buat kamu, yuk nyebur…” segera Tante menyeburkan dirinya. Dengan malu malu aku membuka bajuku tapi belum buka celana. Aku malu ama Tante. Lalu dia naik dari kolam. Dia memdekatiku
“Ayo cepet… Malu ya ama Tante nggak apa apa. Kan kamu keponakan Tante. Jadi sama dengan kakak perempuan kamu.”
Waktu dia mendekatiku terlihat jelas putingnya menonjol keluar. Maklum nggak ada bikini pake busa. Aku melirik bagian payudaranya. Dia hanya tersenyum.
Setelah itu dia kembali menarikku. Tanpa basa basi dengan muka tertunduk aku melorotkan celana dalamku. Yang aku takutkan kepala adikku kelihatan kalau lagi tegang menyembul dibalik celana dalamku. Setelah melepas celanaku langsung aku berenang bersama Tante.
Setelah puas renang aku naik dan segera ke kamar mandi yang besar. Aku masuk disana ketika aku ingin menutupnya, tidak ada kuncinya jadi kalau ada orang masuk tinggal buka aja. Aku segera bergegas tempat dengan penutup kain. Aku tanggalkan semua yang tertinggal ditubuhku dan aku membilas dengan air dingin. Ketika hendak menyabuni tubuhku. Terdengar suara pintu terbuka, aku mengintip ternyata Tanteku yang masuk. Kontan aku kaget aku berusaha agar tidak ketahuan. Ketika dia membuka sedikit tempatku aku spontan kaget segera aku menghadap ke belakang.
“Ehhh… Maaf ya Ren aku nggak tahu kalau kamu ada didalam. Habis nggak ada suara sih”
Langsung segera wajahku memerah. Aku baru sadar kalau Tante sudah menanggalkan bikini bagian atasnya. Dia segera menutupinya dengan telapak tangannya. Aku tahu waktu tubuhku menghadap kebelakang tapi kepalaku lagi menoleh kepadanya.
“Maaf… Juga Tante… Ini salahku” jawabku yang seolah tidak sadar apa yang aku lakukan. Yang lebih menarik telapak tangan Tante tidak cukup menutupi semua bagiannya. Disana terdapat puting kecil berwarna cokelat serta sangat kontras dengan besarnya payudara Tante.
“Tante tutup dong tirainya, akukan malu”
Segera ditutup tirai itu. Dengan keras shower aku hidupkan seolah olah aku sedang mandi. Segera aku intip Tanteku. Ternyata dia masih diluar belum masuk tempat shower. Dia berdiri didepat cermin. Disana dia sedang membersihkan muka, tampak payudaranya bergoyang goyang menggairahkan sekali. Dengan sengaja aku sedikit membuka tirai supaya aku dapat melihatnya. Aku bermain dengan adikku yang langsung keras. Kukocok dengan sabun cair milik Tante. Ketika aku intip yang kedua kali dia mengoleskan cairan disekujur tubuhnya. Aku melihat tubuh Tante mengkilap setelah diberi cairan itu. Aku tidak tahu cairan apa itu. Dia mengoleskan disekitar payudaranya agak lama. Sambil diputar putar kadang agar diremas kecil. Ketika sekitar 2 menit kayaknya dia mendesis membuka sedikit mulutnya sambildia memejamkan mata. Sambil menikmati pemandangan aku konsentrasikan pada kocokanku dan akhirnya… Crot crot…
Air maniku tumpah semua ke CD bekas aku renang tadi. Yang aku kagetkan nggak ada handuk, lupa aku ambil dari dalam tasku. Aku bingung. Setelah beberapa saat aku tidak melihat Tante di depan cermin, tapi dia sudah berada di depan shower yang satunya. Aku tercengang waktu dia melorotkan CDnya dengan perlahan lahan dan melemparkan CDnya kekeranjang dan masuk ke shower. Setelah beberapa kemudian dia keluar. Aku sengaja tidak keluar menunggu Tanteku pergi. Tapi dia menghampiriku.
“Ren koq lama banget mandinya. Hayo ngapain didalam”
Kemudian aku mengeluarkan kepalaku saja dibalik tirai. Aku kaget dia ada dihadapanku tanpa satu busanapun yang menempel ditubuhnya. Langsung aku tutup kembali.
“Rendi malu ya, nggak usah malu akukan masih Tantemu. Nggak papalah?”
“Anu Tante aku lupa bawa handuk jadi aku malu kalau harus keluar”
“Aku juga lupa bawa handuk, udahlah kamu keluar dulu aja. Aku mau ambilkan handukmu.”
Tante sudah pergi. Akupun keluar dari shower. Setelah bebrapa menit aku mulai kedinginan yang tadi adikku mengeras tiba tiba mengecil kembali. Lalu pintu terbuka pembantu Tante yang usianya seperti kakakku datang bawa handuk, akupun kaget segera aku menutupi adikku. Dia melihatku cuma tersenyum manis. Aku tertunduk malu. Setelah dia keluar, belum sempet aku menutup auratku Tanteku masuk masih tetap telanjang hanya aja dia sudah pake cd model g-string.
“Ada apa Tante. Kok masih telanjang” jawabku sok cuek bebek padahal aku sangat malu ketika adikku berdiri lagi.
“Sudah nggak malu ya…, anu Ren aku mau minta tolong”
“Tolong apa Tante koq serius banget… Tapi maaf ya Tante adik Rendi berdiri”
Dia malah tertawa.”Idih itu sih biasa kalau lagi liat wanita telanjang” jawab Tante.
“Begini aku minta Rendi meluluri badan Tante soalnya tukang lulurnya nggak datang”
Bagai disambar petir. Aku belum pernah pegang cewek sejak saat itu. Pucuk dicinta ulam tiba.
“Mau nggak…?
“Mau Tante.”
Segera dia berbaring tengkurap. Aku melumuri punggung Tante dengan lulur. Aku ratakan disegala tubuhnya. Tiba tiba handukku terlepas. Nongol deh senjataku, langsung aku tutupi dengan tanganku
“Sudah biarin aja, yang ada cuma aku dan kamu apa sih yang kamu malukan.”
Dengan santainya dia menaruh handukku kelantai.
“Tubuh Tante bagus banget. Walaupun sudah punya anak tetap payudara Tante besar lagi kenceng”
Aku berbicara waktu aku tahu payudaranya tergencet waktu dia tengkurap. Dan dia hanya tersenyum. Aku sekarang meluluri bagian pahanya dan pantatnya.
“Ren berhenti sebentar”
Akupun berhenti lalu dia mencopot cdnya. Otomatis adikku tambah gagah. Aku tetap tak berani menatap bagian bawahnya. Setelah beberapa waktu dia membalikkan badan ke arahku. Lagi lagi aku tersedak melihat pemandangan itu.
“Ren Adikmu lagi tegang tegangnya nih kayaknya sudah hampir keluar nih.”
Lalu dia menyuruh aku mengolesinya dibagian payudaranya. Dia suruh aku supaya agak meremas remasnya. Aku pun ketagian acara itu disana aku melihat puting berwarna coklat muda lagi mengeras. Kadang kadang aku senggol putingnya atau aku sentil. Dia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan.
“Ren terus remas… Uhuhh remes yang kuat”
“Tante kok jarang rambutnya dianunya Tante. Nggak kaya Mbak Ana” aku bertanya dan dia hanya tersenyum ketika tanganku beralih di daerah vagina.
Ketika aku menyentuh vagina Tante yang jarang rambutnya. Aku gemetar ketika tanganku menyentuh gundukan itu. Belum aku kasih lulur daerah itu sudah basah dengan sendirinya. Aku disuruhnya terus mengusap usap daerah itu, kadang aku tekan bagian keduanya.
“Ren pijatanmu enak banget… Terus…”
Setelah aku terus gosok dengan lembut tiba tiba Tante menegang. Serrr serrr, aku mencari sumber bunyi yang pelan tapi jelas. Aku tahu kalau itu berasal dibagian sensitif Tante. Lalu dia terkulai lemas.
“Makasih ya atas acara lulurannya. Untung ada kamu. Ternyata kamu ahli juga ya”
“Tentu Tante, kalau ada apa apa bisa andalkan Rendi”
Lalu dia pergi dari kamar mandi itu. Aku memakai handuk untuk menutupi bagian tubuhku. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata dia berjalan jalan dirumah tanpa sehelai benang pun. Aku pun segera masuk ke kamar tidur yang dipersiapkan, tenyata ada pembantu yang tadi mengambilkan handuk sedang menata pakaianku ke dalam almari.
“Den, Rendi, tadi kaget nggak ngeliat ibu telanjang” sebelum aku jawab.
Dia memberitahukan kalau Tante itu suka telanjang dan memamerkan tubuhnya ke semua orang baik perempuan maupun laki laki tapi tidak berani kalau ada suaminya. Pembantu itu juga memberitahukan kejadian yang aneh dia sering renang telanjang dan yang paling aneh kadang kadang ketika dia menyirami bunga dia telanjang dada di depan rumah tepatnya halaman depan, padahal sering orang lewat depan rumah.
“Sudah ganti sana cd ada didalam almari itu tapi kayaknya anunya den Rendi masih amatir” dia menggodaku.
Setelah melewati beberapa hari akupun sering mandi sama Tante bahkan hampir tiap hari. Semakin dipandang tubuhnya makin oke aja. Itu semua pengalaman saya hidup dirumah Tante Reni yang aduhai. Tapi aku kecewa waktu aku meninggalkan rumah itu. Aku disana belum genap satu tahun. Karena harus balik lagi ke rumah karena ayah ibuku bekerja diluar kota dan aku harus tunggu bersama kakakku Ana.

Kamis, 21 November 2013

Cerita Seks Kisah Gadis Di Saat Pemerkosaan Masal Di Sekolah

Cerita Seks Kisah Gadis Di Saat Pemerkosaan Masal Di Sekolah
Cerita Seks Kisah Gadis Di Saat Pemerkosaan Masal Di Sekolah – Udah dua jam lebih Hafizah menunggu lewatnya bus jalur 6A yang biasanya mengantarkannya pergi pulang sekolah. Ya, hanya bus rakyat itulah satu-satunya sarana transportasinya dari Godean ke SMP Negeri favorit di bilangan dekat perguruan tinggi negeri. Tapi sejauh ini, bus itu belum nongol-nongol juga.
Padahal kakinya sudah semutan terus berdiri di depan proyek bangunan berlantai tiga yang rencananya untuk restoran ayam goreng terkenal dari Amerika itu. Hafizah yang kelas satu dan belum sebulan ini masuk sekolah barunya, melirik sekali lagi jam tangannya hadiah dari kakaknya yang kerja di Batam. Pukul lima siang lewat sepuluh menit. Inilah arloji hadiahnya jika masuk SMP favorit. Gadis 12 tahun bertubuh imut tapi tampak subur itu memang pintar dan cerdas. Tak heran jika ia mampu menembus bangku sekolah idamannya.
Cuaca di atas langit sana benar-benar sedang mendung. Angin bertiup kencang, sehingga membuat rambut panjang sepinggangnya yang lebat tapi agak kemerahan itu berkibar-kibar. Hembusannya yang dingin membuat gadis berkulit kuning langsat dan berwajah ayu seperti artis Paramitha Rusady itu memeluk tas barunya erat-erat untuk mengusir hawa dinginnya. Berulang kali bus-bus kota lewat, tapi jalur yang ditunggu-tunggunya tak kunjung lewat juga. Sejenak Hafizah menghela nafasnya sambil menebarkan pandangannya ke seluruh calon penumpang yang berjejalan senasib dengannya. Lalu menengok ke belakang, memperhatikan pagar seng bergelombang yang membatasi dengan lokasi pembangunan proyek tersebut. Tampak puluhan pekerjanya yang tengah meneruskan kegiatannya, walaupun cuaca sedang jelas hendak hujan deras. Hilir mudik kendaraan yang padat kian membuat kegelisahannya memuncak.
Mendadak hujan turun dengan derasnya. Spontan saja, Hafizah dan tiga orang calon penumpang bus kota yang di antaranya dua pasang anak SMA dan seorang bapak-bapak secara bersamaan numpang berteduh masuk ke lokasi proyek yang pintunya memang terbuka dan di sana terdapat bangku kayu serta teduh oleh tritisan beton. Sedangkan belasan orang lainnya memilih berteduh di depan toko fotocopy yang berada di sebelah bangunan proyek itu. “Numpang berteduh ya, Pak!” pinta ijin bapak-bapak itu disahuti teriakan “iya” dari beberapa kuli bangunan yang turut pula menghentikan kerjanya lalu berteduh di dalam bangunan proyek. Tapi dalam beberapa menit saja, bapak tua itu telah berlari keluar sambil berterima kasih pada para kuli bangunan setelah melihat bus kota yang ditunggunya lewat.
Tak sampai lima menit kedua anak SMA itupun mendapatkan bus mereka. Kini Hafizah sendirian duduk menggigil kedinginan.
“Aduh..!” kaget Hafizah yang tersadar dari lamunannya itu tatkala sebuah bus yang ditunggunya lewat dan berlalu kencang. Tampak wajah gelisah dan menyesalnya karena melamun.
“Mau pakai 6A, ya Dik?” tanya seorang kuli yang masih muda belia telah berdiri di sampingnya Hafizah yang tengah mondar-mandir di depan bangku.
Hafizah sempat kaget, lalu tersenyum manis sekali.
“Iya Mas. Duh, busnya malah bablas. Gimana nih?!”
“Tenang saja, jalur 6A-kan sampai jam tujuh malam. Tunggu saja di sini, ya!” ujarnya sambil masuk ke dalam.
Hafizah hanya mengangguk ramah, lalu duduk kembali di bangkunya, yang sesekali waktu dia menengok ke arah timur, kalau-kalau terlihat bus jalur 6A lewat. Setengah jam lewat. Tak ada tanda-tanda bus itu lewat. Hafizah melihat ke dalam gedung yang gelap itu, tampak sekitar lima puluh kuli sedang istirahat. Sebagian asyik ngobrol, lainnya merokok atau mandi di bawah siraman air hujan. Lainnya terlihat terus-menerus memperhatikan Hafizah. Perasaan tak enak mulai menyelimuti hatinya.
Belum sempat otaknya berpikir keras untuk dapat keluar dari lokasi proyek, mendadak sepasang tangan yang kuat dan kokoh telah mendekap mulut dan memiting lehernya. Hafizah kaget dan berontak. Tapi tenaga kuli kasar itu sangatlah kuat, apalagi kuli lainnya mengangkat kedua kaki Hafizah untuk segera dibawanya masuk ke dalam bangunan proyek.
“Diam anak manis! Atau kami gorok lehermu ini, hmm!” ancam kuli yang telanjang dada yang menyekapnya itu sambil menempelkan sebilah belati tajam di lehernya, sedangkan puluhan kuli lainnya tertawa-tawa senang penuh nafsu birahi memandangi kemolekan tubuh Hafizah yang sintal padat berisi itu. Hafizah hanya mengagguk-angguk diam penuh suasana takut yang mencekam. Tak berapa lama gadis cantik itu sesenggukan. Tapi apalah daya, suara hujan deras telah meredam tangis sesenggukannya. Sedangkan tawa-tawa lima puluh enam kuli usia 16 sampai yang tertua 45 tahun itu kian girang dan bergema sembari mereka menanggalkan pakaiannya masing-masing.
Hafizah melotot melihatnya.
“Jangan macam-macam kamu, ya. Hih!” ancamnya lagi sambil membanting tubuh Hafizah di atas hamparan tenda deklit oranye yang sengaja digelar untuk Hafizah. Tas sekolahnya diserobot dan dilempar ke pojok. Hafizah tampak menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi menyaksikan puluhan kuli itu berdiri mengelilingi dirinya membentuk formasi lingkaran yang rapat.
“Tolong.. tolong ampuni saya Pak.. jangan sakiti aku.. kumohon.. toloong, ouh.. jangan sakiti aku..” pinta Hafizah merengek-rengek histeris sambil berlutut menyembah-nyembah mereka.
Tapi puluhan kuli itu hanya tertawa ngakak sambil menuding-nuding ke arah Hafizah, sedangkan lainnya mulai menyocok-ngocok batang zakarnya masing-masing.
“Buka semua bajumu, anak manis! Ayo buka semua dan menarilah dengan erotisnya. Ayo lakukan, cepaat!” perintah yang berbadan paling kekar dan usia sekitar 30 tahun itu yang tampaknya adalah mandornya sambil mencambuk tubuh Hafizah dengan ikat pinggang kulitnya.
“Cter!”
“Akhh.. aduh! Sakit, Pak.. akhh..!” jerit kesakitan punggungnya yang kena cambuk sabuk.
Tiga kali lagi mandor itu mencabuk dada, paha dan betisnya. Sakit sungguh minta ampun. Hafizah menjerit-jerit sejadinya sambil meraung-raung minta ampun dan menangis keras. Tapi toh suaranya tak dapat mengalahkan suara hujan.
“Cepat lakukan perintahku, anak manja! Hih!” sahut mandor sambil melecutkan sabuknya lagi ke arah dada Hafizah yang memang tumbuhnya belum seberapa besarnya, bisa dikatakan, buah dadanya Hafizah baru sebesar tutup teko poci. Hafizah kembali meraung-raung.
“Iya.. iya Pak.. tolong, jangan dicambuki.. sakiit.. ouh.. ooh.. huk.. huuh..” ucap Hafizah yang telah basah wajahnya dengan air mata.
Ucapannya itu disahuti oleh gelak tawa para kuli yang sudah tak sabar lagi ingin menikmati makan sore mereka.
“Aduuh, udah ngaceng nih, buruan deh lepas bajunya.”
“Iya, nggak tahan lagi nih, mau kumuntahkan kemananya yaa?”
Perlahan Hafizah beranjak berdiri dengan isak tangisnya.
“Sambil menari, ayo cepat.. atau kucambuk lagi?” desak mandor mengancam.
Hafizah hanya mengangguk sambil menyadari bahwa batang-batang zakar mereka telah ereksi semua dengan kencangnya.
Hafizah perlahan mulai menari sekenanya sambil satu persatu memreteli kancing seragam SMP-nya, sedangkan para kuli memberikan ilustrasi musik lewat mulut dan memukul-mukulkan ember atau besi. Riuh tapi berirama dangdut. Sorak-sorai mewarnai jatuhnya bajunya. Hafizah kian pucat. Kini gadis itu mulai melepas rok birunya. Kain itu pun jatuh ke bawah dengan sendirinya. Kini Hafizah tinggal hanya memakai BH dan CD serta sepatu. Sepatu dilepas. Hafizah lama sekali tak melepas-lepas BH dan CD-nya. Dengan galak, mandor mencabuk punggungnya.
“Cter!”
“Auukhh.. ouhk..!” jerit Hafizah melepas BH dan CD-nya dengan buru-buru.
Tentu saja dia melakukannya dengan menari erotis sekenanya. Terlihat jelas bahwa Hafizah belum memiliki rambut kemaluan. Masih halus mulus serta rapat. Tepuk tangan riuh sekali memberikan aplaus.
Sedetik kemudian, rambut Hafizah dijambak untuk dipaksa berlutut di depan mandor. Hafizah nurut saja.
“Ayo dikulum, dilumat-lumat di disedoot.. kencang sekali, lakukan!” perintahnya menyodorkan batang zakarnya ke arah mulut Hafizah.
Hafizah dengan sesenggukan melakukan perintahnya dengan wajah jijik.
“Asyik.. terus, lebih kuat dan kencang..!” perintahnya mengajari juga untuk mengocok-ngocok batang zakar mandor.
Hafizah dengan lahap terus menerus menyedot-nyedot batang zakarnya mandor yang sangat keasyikan. Seketika zakar itu memang kian ereksi tegangnya. Bahkan mandor menyodok-nyodokkan batang zakarnya ke dalam mulut Hafizah hingga gadis itu nyaris muntah-muntah karena batang zakar itu masuk sampai ke kerongkongannya.
Di belakang Hafizah dua kuli mendekat sambil jongkok dan masing-masing meremas-remas kedua belah buah dadanya Hafizah sembari pula mempintir-plintir dan menarik-narik kencang puting-puting susunya itu.
“Ouuhk.. hmmk.. aauuhk.. hmmk..!” menggerinjal-gerinjal mulut Hafizah yang masih menyedot-nyedot zakar mandor.
Tak berapa lama spermanya muncrat di dalam mulut Hafizah.
“Creeot.. cret.. croot..!”
“Telan semua spermanya, bersihkan zakarku sampai tak tersisa!” perintah galak sambil menjambak rambut Hafizah.
Gadis itu menurut pasrah. Sperma ditelannya habis sambil menjilati lepotan air mani itu di ukung zakar mandor sampai bersih.
Mandor mundur. Kini Hafizah kembali melakukan oral seks terhadap zakar kuli kedua. Dalam sejam Hafizah telah menelan sperma lima puluh enam kuli! Tampak sekali Hafizah yang kekenyangkan sperma itu muntah-muntah sejadinya. Tapi dengan galak mandor kembali mencambuknya. Tubuh bugil Hafizah berguling-guling di atas deklit sambil dicambuki omandor. Kini dengan ganas, mereka mulai menusuk-nusukkan zakarnya ke dalam vagina sempit Hafizah. Gadis itu terlihat menjerit-jerit kesakitan saat tubuhnya digilir untuk diperkosa bergantian. Sperma-sperma berlepotan di vagina dan anusnya yang oleh sebagian mereka juga melakukan sodomi dan selebihnya membuang spermanya di sekujur tubuhnya Hafizah. Hafizah benar-benar tak tahan lagi. Tiga jam kemudian gadis itu pingsan. Dasar kuli rakus, mereka masih menggagahinya. Rata-rata memang melakukan persetubuhan itu sebanyak tiga kali. Darah perawan mengucur deras dari vagina Hafizah yang malang.

Selasa, 19 November 2013

Cerita Seks Aku dan Isteri Temanku

Cerita Seks Aku dan Isteri Temanku
Cerita Seks Aku dan Isteri Temanku – Kejadiannya bermula dari perjumpaan aku dengan seorang teman SMP aku di sebuah toko elektronik, ketika aku sedang membeli VCD Player. Pertemuan di toko itu kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama. Joko, teman aku itu, bekerja sebagai di salah satu perusahaan minyak. Karena ia bekerja di bagian produksi, maka waktunya lebih banyak dihabiskan di anjungan minyak lepas pantai. Dua minggu di anjungan, dan satu minggu kemudian ia bekerja di darat. Begitulah pola jadwal kerjanya. Ia
telah 5 tahun menikah tetapi belum juga dikaruniai anak.
Nama isterinya adalah Nina, bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. Pembicaraan di rumah
makan tersebut sedemikian mengasyikkan. Kami banyak mengenang berbagai kejadian lucu semasa kami di SMP dahulu. Bagaimana kami berusaha mengintip paha guru-guru wanita, cerita tentang Bibi Kantin, dan sebagainya. Tidak kami sadari, rupanya rumah makan itu akan segera tutup. Kemudian Joko mengajak aku ke rumahnya.
Rumah Joko sudah sepi ketika kami sampai di sana. Menjawab pertanyaan Joko, pembantu wanita yang membukakan pintu mengatakan bahwa isteri Joko telah masuk kamar dari
jam sembilan, mungkin sudah tidur katanya. Sambil duduk di ruang tamu menunggu Joko yang masuk ke kamarnya, aku mengamati rumah Joko yang cukup asri ini. Dari foto mereka yang terpajang, aku dapat melihat dan menilai
bahwa isterinya cukup menarik dan seksi. Ternyata penilaian aku tersebut tidak salah.
Dengan hanya mengenakan daster tanpa lengan dan sedikit terkantuk- kantuk ia menjulurkan tangannya “Nina” katanya. “Bambang” jawabku singkat.
Kemudian Nina mengatakan ia mohon maaf karena mengantuk sekali dan harus tidur cepat karena ia
mendapat jadwal mengajar pagi keesokan harinya. Tinggallah aku berdua dengan Joko melanjutkan
perbincangan kami. Sambil berbincang-bincang, kemudian Joko mencoba VCD yang baru dibelinya. VCD itu sendiri isinya film yang cukup terkenal (judulnya kalau tidak salah “Indecent Proposal”. Kurang lebih film itu berkisah
tentang tawaran dari seorang pria untuk memberikan sejumlah besar uang apabila ia diperbolehkan mengencani
isteri pria yang satunya tersebut.
Sambil menonton, Joko bertanya “Kalau kamu bagaimana Bang?” tanyanya. Aku menjawab “enggak tahu deh .. bingung”. Kemudian aku balik bertanya “Kalau kamu bagaimana Jok?”. Joko mengemukakan
bahwa kalau ia menghadapi situasi yang demikian, maka ia akan menerima tawaran itu.
Bahkan ia kemudian secara terbuka mengungkapkan kepadaku bahwa terkadang ia suka
membayangkan isterinya bersetubuh dengan orang lain.
Ia merasa janggal dengan keadaannya yang satu ini. Kemudian kami memperbincangkan berbagai hal lainnya. Menjelang tengah malam, akhirnya aku pamit, walaupun sebenarnya
masih banyak yang ingin kami perbincangkan. Dengan kesibukan masing-masing, selama hampir tiga
minggu kami tidak berkomunikasi. Sampai akhirnya di satu hari Kamis, ia menelepon aku di kantor menjelang jam
pulang kantor. Joko mengajak aku untuk bertemu di salah satu Cafe di bilangan Kemang. Karena tidak acara,
akhirnya aku menyanggupi ajakan tersebut. Rupanya Joko ingin membicarakan suatu hal yang agak pribadi, sehingga ia mengajak aku bertemu di cafe tersebut. Setelah pembicaraan basa-basi, akhirnya ia mengutarakan maksud utama mengapa ia mengajak aku bertemu.
“Begini Mbang” kata Joko sebagai pembukaan. “Sebetulnya aku agak sungkan mengemukakan hal yang akan
aku utarakan ini, karena sifatnya begitu pribadi” lanjutnya. “Mudah-mudahan kamu tidak terkejut dan tidak
berpikir yang bukan-bukan terhadap aku , setelah semuanya ini aku ungkapkan padamu” sambung Joko lagi. “Ada apa sih Jok” tanyaku penasaran.
“Pernah tidak kamu membayangkan isterimu bermesraandengan orang lain” tanyanya. “Pernah” jawabku singkat dan sejujurnya memang demikian. “Aku juga” katanya. “Bahkan, aku sangat terangsang kalau membayangkan isteriku bersetubuh dengan laki-laki lain” lanjutnya. “Sebenarnya, secara tidak langsung aku pernah mengemukakan hal tersebut ketika kita nonton film di rumahku dulu” lanjutnya lagi. “Bayangan itu, hampir tiap malam singgah di kepalaku. Dan sepertinya aku tidak tahan lagi untuk mewujudkannya.” kata Joko sambil meneguk minumannya.
“Karena itulah, aku mengajakmu bertemu. Terus terang Mbang, aku mau minta
tolong padamu. Maukah kamu menyetubuhi isteriku ? Aku ingin melihat kamu menyetubuhi isteriku”
katanya malu- malu. Walaupun sebenarnya aku juga sudah menduga-duga kemungkinan akan hal itu, tetapi aku tetap tertegun mendengar ungkapan Joko tersebut. “Maaf ya Mbang, kalau permintaanku itu kurang enak buat kamu” kata Joko melihat aku diam saja. “Terus terang Jok, aku kaget dan agak bingung. Walaupun masih ada beberapa pertanyaan di benakku, tapi aku dapat memahami keinginanmu itu. Yang benar-benar membuatku bingung … kenapa aku yang kamu pilih untuk menyetubuhi isterimu.?” tanyaku.
“Ada beberapa alasan” jawab Joko. “Pertama, aku sudah cukup mengenal kamu, yang artinya kamu aku nilai tidak
akan sembarangan membocorkan rahasia ini kepada orang lain. Kedua, walaupun kita kenal sudah cukup lama, tapi kita kan tidak sering berhubungan. Aku pikir keadaan itu dapat mengurangi resiko timbulnya berbagai masalah yang lebih besar kemungkinannya timbul kalau yang menyetubuhi isteriku adalah orang yang bergaul sehari-hari dengan kami” lanjut Joko. “Maksudmu bagaimana Jok, aku agak kurang jelas?” tanyaku. “Begini, seumpamanya yang menyetubuhi isteriku itu tetanggaku atau teman kantorku, kan kejadian itu dapat menimbulkan situasi hubungan yang baru di antara kami.
Misalnya, jadi salah tingkah dalam berhubungan. Dan jika hal itu terjadi, akan lebih besar pengaruhnya dibandingkan jika dengan kamu. Karena, hamper tiap hari kan aku ketemu mereka.” kata Joko menjelaskan. “Kalau begitu, ada kemungkinan dong hubungan kita menjadi renggang?” tanyaku lebih jauh. “Itu kan cuma permisalan
saja” kata Joko. “Tapi kan aku harus tetap memperhitungkannya” kata Joko lagi. “Pertimbangan
lainnya” tanyaku lagi.
“Terus terang Mbang, biar bagaimana juga kan aku harus pilih-pilih. Aku tidak mau dong orang sembarangan
yang menyetubuhi isteriku. Tampang dan kondisi sosial- ekonomi, setidaknya selevel denganku” kata Joko. “Kalau
orang sembarangan, isteriku juga belum tentu mau” lanjut Joko lagi.
Sex
“Memangnya hal ini sudah kamu bicarakan dengan isterimu?” tanyaku sambil meneguk Coca Cola yang ada di
hadapanku. Kemudian Joko mengatakan “Sudah tahunan Mbang aku mengungkapkan keinginanku ini ke Nina. Tapi dia selalu menolaknya. Ide gila katanya. Baru beberapa bulan yang lalu sikapnya agak melunak, karena kayaknya dia mulai takut aku ceraikan karena tidak punya anak. Tapi, sampai saat ini keinginanku itu belum terpenuhi. Kami belum menemukan orang yang benar-benar cocok dengan keinginan kami. Kadang aku yang tidak cocok, kadang dia yang tidak menyenangi orang yang aku usulkan. Ada juga yang alternatif orang yang kami berdua kurang cocok”.
“Memangnya kalau aku, isterimu sudah setuju?” potongku.
Joko menjawab “Aku sudah pernah membicarakan kamu sebagai
alternatif kepada Nina, dan responsnya menurutku lebih
baik dibandingkan dengan calon-calon sebelumnya”. “Apa
komentar Nina tentangku” tanyaku lagi. “Nina bilang kamu
‘boleh juga’, dan seperti penilaianku, Nina juga menilai
kamu cukup dikenal olehku, namun kita tidak terlalu dekat
dan tidak terlalu sering berhubungan dengan kami” jawab
Joko.
Setelah menanyakan beberapa hal lainnya, kemudian
aku mengatakan kepada Joko bahwa aku masih membutuhkan
waktu untuk berpikir. Alasan utama yang aku utarakan
adalah bahwa aku belum pernah melakukan hal tersebut.
Kemudian setelah kami berbincang-bincang tentang berbagai
hal lainnya, kami akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Pada malam saat aku berbicara dengan Joko di cafe‚
tersebut, aku sebenarnya sudah ingin memberikan jawaban
bersedia. Selain memang mungkin benar bahwa pria memiliki
kecenderungan untuk tidak puas dengan satu wanita saja,
juga didukung oleh situasi dimana satu bulan terakhir ini
isteriku sudah tidak mau diajak bersetubuh karena usia
kandungannya yang sudah tua.
Faktor kebat-kebit
sehubungan dengan hasratku terhadap mertuaku, juga
semakin menggelitik kebutuhan seksku. Satu-satunya hal
yang menunda persetujuanku adalah kekhawatiran akan
resiko dari memenuhi permintaan itu. Pertama, terus
terang aku takut affair tersebut akan diketahui orang dan
akhirnya sampai ke telinga keluargaku atau keluarga
isteriku.
Kedua, aku khawatir kalau Joko meminta imbalan
sebaliknya. Artinya, ia juga ingin menyetubuhi isteriku.
Aku khawatir kalau ia meminta hal ini, aku tidak dapat
memenuhinya. Isteriku kemungkinan besar akan menolak ide
itu, aku sendiripun masih bertanya-tanya apakah aku mau
membiarkan isteriku disetubuhi orang lain. Walaupun aku
terkadang memfantasikannya, kan tetap ada beda antara
fantasi dengan realita.
Setelah aku timbang-timbang kurang lebih selama
seminggu, dan setelah memperoleh konfirmasi dari Joko
bahwa ia tidak bermaksud untuk meminta imbalan
menyetubuhi isteriku, akhirnya aku memutuskan untuk
memenuhi tawaran dari Joko tersebut.
Kemudian, melalui
telepon aku memberitahu Joko, dan langsung saat itu juga
kami membuat janji untuk bertemu di rumah Joko pada hari
Jumat malam.
Dengan alasan ingin bertemu dengan teman lama,
setelah mandi dan sempat bermasturbasi di kamar mandi,
aku pamit pada isteriku dan berangkat ke rumah Joko.
Makan malam di rumah Joko berlangsung agak kaku. HanyaJoko saja yang banyak berbicara dan berusahamenghangatkan suasana. Aku hanya mengiyakan atau menjawabsingkat pertanyaan-pertanyaan Joko. Sementara itu, Nina lebih banyak menundukkan kepala dan terlihat agak jengah ketika bertemu pandang denganku. Yang ada di kepalaku saat itu, adalah bayangan bahwa sebentar lagi aku akan memesrai wanita ini. Beberapa kali aku sempat mencuri pandang ke arah Nina dengan agak menjelajahi tubuhnya.
Khususnya, ketika ia berdiri dan berjalan mengambil buah
untuk penutup makan malam itu.
Sehabis makan, ketika Nina membereskan meja makan,
Joko dan aku duduk-duduk di ruang keluarga. Beberapa
saat kemudian Nina masuk ke ruang keluarga itu, duduk di
salah satu sofa tunggal di ruang itu. Ia duduk dengan
kedua tangan menyatu dan diselipkan di antara kedua
kakinya. Terkesan sangat gugup, canggung dan agak
ketakutan. Suasana terasa sangat kaku, walaupun beberapa
kali Joko berusaha melucu. Tatapan kami lebih sering ke
arah televisi, tapi aku yakin kalau pikiran kami bukan ke
acara di televisi tersebut.
Suatu saat Joko berdiri dan
kemudian menarik tangan Nina untuk bangun dari sofa yang
didudukinya. “Ada apa Mas?” tanya Nina keheranan. Tanpa
menjawab, Joko kemudian menuntun Nina ke arahku yang
duduk di sofa panjang, lalu mendudukkan Nina di
sampingku. “Apa-apaan sih” kata Nina sambil terduduk.
Situasinya semakin menjadi tidak enak dan semakin
canggung. “Kayaknya kamu terlalu maksa deh Jok” kataku
kepada Joko. Nina diam saja dengan wajah memerah,
campuran rasa malu dan canggung.
“Sorry deh. Mungkin
lebih baik kalian berdua saja dulu untuk lebih akrab. Aku
ke teras depan dulu ya .. ” kata Joko sambil berjalan
meninggalkan kami.
“Kita batalin saja Nin, kalau kamu memang tidak mau”
kataku kepada Nina, sambil mengarahkan pandangan ke
televisi lagi. “Nggak apa-apa kok … aku memang sudah
menyanggupi hal ini pada Mas Joko. Cuma aku bingung saja
aku harus bagaimana”, jawab Nina. Kemudian aku memandang
wajah Nina, terlihat pipinya memerah kembali.
“Aku juga
bingung, belum pengalaman sih” jawabku sambil
memberanikan diri memegang tangan Nina. Ia diam saja, dan
membiarkan tangannya kuelus-elus. Detak jantungku maupun
jantung Nina, semakin mengeras sejalan dengan kegugupan
kami masing-masing. Kemudian aku menyandarkan lenganku ke
bahunya, terasa hangat namun tetap gugup.
Kemudian kuusap-
usap rambutnya, turun ke leher, ke rambut lagi. Bolak-
balik begitu. Suasana terasa lebih rileks, dan kemudian
Nina menyandarkan kepalanya ke punggung tangan kiriku
yang ada di bahu kirinya. Kemudian tangan kanannya
menarik tangan kananku dan meletakkan di telapak tangan
kirinya, sambil tangan kanannya mengelus-elus punggung
tangan kananku. Saat itu, bagi kami, terasa lebih mudah
melakukan gerakan-gerakan dibandingkan dengan berbicara.
Setelah beberapa saat, kemudian aku menarik kedua
tanganku, dan duduk menghadap Nina sambil memegang kedua
pipinya dengan tanganku.
Sesaat kami berpandangan, tetapi
kemudian Nina menutup kedua matanya. Secara naluriah
kemudian kucium bibir Nina. Untuk sesaat, terasa bibir
Nina agak menutup rapat, tapi kemudian lama-lama melemah
dan membuka. Kukulum bibirnya dengan lembut. Lalu kujepit
bibir bawahnya dengan kedua bibirku, sambil kubelai bibir
bawahnya itu dengan lidahku. Kemudian kukulum lagi
lidahnya, terasa mulai ada respons dari Nina. Ia mulai
aktif membalas ciuman dan kulumanku. Secara refleks,
tanganku mulai membelai-belai payudaranya, dan sesekali
meremas dengan lembut.
Kemudian Nina melenguh, dan
melepaskan bibirnya dari bibirku dengan napas terengah-
engah. Matanya terbuka dan kemudian bibirnya tersenyum,
akupun tersenyum sambil memandangnya. “Aku belum pernah
dicium dengan cara tadi dan belum pernah ciuman selama
itu” kata Nina kepadaku. Aku diam saja sambil terus
membelai payudara Nina. Dengan gerakan memutar, aku
mengelus daerah puting payudaranya. Secara perlahan, aku
dapat merasakan bahwa putingnya makin lama makin
menonjol. Tanpa berkata-kata, kupeluk erat Nina, dan
kemudian kucium lagi.
“Nah begitu dong … ” kata Joko yang tanpa kami
sadari sudah berada di dekat kami. Nina dan aku sama-sama
terkejut dan agak terlonjak mendengar suara Joko. Tubuh
kami pun menjadi agak merenggang. “Ngaget-ngagetin saja
kamu Jok” kataku sambil merasa agak malu dan sedikit
terganggu, karena situasi tadi sempat membuaiku. “Sorry
deh .. kita ke kamar saja yuk” kata Joko. Kemudian kami
bertiga masuk ke salah satu kamar. Perkiraanku, kamar ini
bukanlah kamar mereka, karena terlihat agak kosong. Boleh
jadi kamar ini adalah kamar untuk tamu.
Di kamar Joko langsung duduk di kursi meja rias dan
berkata, “Terusin deh yang tadi … kaya’nya kalian sudah
mulai hot”. Namun kecanggungan kembali merajai situasi di
ruangan. Boleh jadi, keberadaan Joko menyebabkan kami
menjadi canggung. Nina hanya duduk diam di salah satu
sisi tempat tidur. Di sisi lainnya aku juga duduk
terdiam. Namun kemudian aku berkata “Rasanya canggung Jok
ada kamu disini”. Menyadari situasi, kemudian Joko
mengatakan bahwa ia akan keluar dulu dari kamar itu,
sementara kami mencoba untuk memadu kemesraan.
Setelah
Joko keluar kamar, baru terasa bahwa situasi menjadi
lebih rileks dan menyenangkan. Aku kemudian tersenyum,
sambil berjalan ke arah Nina.
Nina membalas senyumanku
itu sambil merentangkan tangannya dan memelukku ketika
aku sampai di hadapannya. Sambil duduk kami terus
berpelukan dan berciuman, sambil meraba-raba satu sama
lainnya. Secara tidak sadar posisi kami sudah setengah
berbaring. Kakiku dan kaki Nina masih terjuntai ke
lantai, tapi aku sudah dalam posisi menindih Nina.
Kuciumi payudara Nina, ia mulai menggeliat-menggeliat
sambil terkadang menarik nafas panjang. Nafasnya pun
terdengar semakin berat. Kubuka kancing-kancing baju
Nina, dan terlihatlah BH nya yang berwarna coklat muda.
Kusingkapkan BH sebelah kanan agak ke atas dan
tersembullah buah dada Nina yang cukup besar itu.
Putingnya tidak terlalu besar tetapi sudah cukup
menonjol. Tampaknya ia sudah mulai terangsang. Segera
kuciumi payudaranya dan kumainkan putingnya dengan bibir
dan lidahku, kadang-kadang kusedot putting payudaranya.
“Oooohhhhh …. ” lenguh Nina, satu saat ketika putingnya
kusedot.
Setelah cukup lama bermain-main dengan payudaranya,
kemudian ciumanku mulai turun ke arah perutnya. Nina
menggeliat kegelian. “Geli Mas” katanya. Seakan-akan
sudah janjian, kami kemudian merenggangkan tubuh kami dan
sama-sama bangkit duduk, sambil melepas pakaian masing-
masing, sehingga tinggal celana dalam kami masing-masing
saja yang masih melekat di tubuh kami. Kemudian,
kubaringkan Nina, dan kuciumi bagian dalam pahanya,
sambil menarik celana dalamnya ke bawah, sampai akhir
terlepas. Bulu-bulu di kemaluan Nina cukup lebat, tapi
garis kemaluannya masih cukup jelas terlihat. Kemudian,
kubuka celana dalamku sendiri, sehingga akhirnya kami
sama-sama telanjang bulat.
Kulihat Nina agak tertegun
melihat kemaluanku. “Kenapa Nin?” tanyaku “Tidak apa-apa”
jawabnya. Kemudian kutindih kembali Nina dan kuciumi
leher dan kupingnya. Kembali terdengar lenguhan-lenguhan
Nina. Agak berbeda dengan isteriku yang tidak banyak
mengeluarkan bunyi kalau kami sedang bermesraan, Nina
cukup banyak mengeluarkan bunyi, entah itu lenguhan
“Oooohhhhh” atau “eeggghhh” atau “heegg”, dan beberapa
bunyi lain yang tidak dapat aku ingat.
Kemaluanku yang
mulai membesar dan mengeras menempel di pahanya. Mungkin
tanpa disadari, tangan Nina bergerak-gerak seakan mencari
kemaluanku. Kuangkat sedikit pinggulku sehingga tangan
Nina dapat menyelinap ke sela-sela badan kami dan
akhirnya menyentuh kemaluanku. Dengan lembut kemaluanku
digenggamnya dan digeser-geserkan ke selangkangannya.
Nikmat rasanya, walaupun hanya bergesekan saja. Setelah
cukup tegang, Nina melepaskan genggamannya pada
kemaluanku dan kedua tanganya mulai mengusap-usap
punggungku sambil terkadang memeluk erat tubuhku yang ada
di atas tubuhnya.
Tiba-tiba ada seberkas cahaya tambahan terlihat. Kami
sama-sama menoleh ke arah pintu dan melihat Joko berdiri
di ambang pintu sedang memandang kami. Joko tertegun dan
kemudian menganggukkan kepalanya. Aku tidak tahu apa
maksud dari anggukan kepalanya. Hanya aku sempat kesal
dan berpikir “waduh ini orang, selalu tidak sabaran dan
menggangu saja”.
Berusaha mengabaikan keberadan Joko,
kugesekkan terus kemaluanku di selangkangan Nina, yang
rasanya mulai membasah. Khawatir “turun” lagi situasi
yang sudah panas ini, kupegang kemaluanku dan mencoba
mengarahkannya ke lubang kemaluan Nina. Dengan sedikit
dorongan ekstra, akhirnya kemaluanku berhasil menembus
lubang kemaluan Nina. Pada dorongan pertama hanya
kepalanya saja yang masuk. Terasa hangat dan empuk
kemaluan Nina. Ketika kumasukkan, Nina mengeluh “aduuhh
…”. Kutarik dan kemudian kumasukkan lagi kemaluanku,
hasilnya lebih dalam dari yang pertama.
Pada enjotan
kelima, bersamaan dengan masuknya seluruh batang
kemaluanku ke lubang kemaluan Nina, Nina kembali mengeluh
“aduuhh sakit mas … ” katanya. Kudiamkan sebentar
kemaluanku di dalam kemaluan Nina. Kemudian kadang-kadang
kutegangkan kemaluanku yang masih didalam kemaluan Nina
dengan sedikit mengencangkan otot-otot selangkanganku.
Secara halus kurasakan kadang-kadang kemaluan Nina
berespons, dengan gerakan menyempit kemudian normal dan
menyempit lagi. Tatkala kutatap wajah Nina yang tersenyum
kecil, aku baru sadar bahwa ia memang sengaja membalas
gerakanku menegangkan kemaluanku tersebut dengan gerakan
vaginanya.
Beberapa lama kami berkomunikasi dengan
kemaluanku, tanpa Joko dapat melihatnya.
Tetapi kemudian
aku tidak tahan lagi. Segera kuenjot lagi pinggulku, kira-
kira pada enjotan yang ke sepuluh, aku tidak tahan lagi
dan akhirnya memuncratkan air maniku di dalam kemaluan
Nina. Entah karena sensasi pengalaman baru, entah karena
muculnya Joko, entah karena sudah cukup lama aku tidak
bersetubuh, yang menyebabkan aku eyakulasi lebih cepat
dari biasanya. Yang jelas aku terbaring di atas tubuh
Nina dan mebisikkan ke telinga Nina “Terima kasih Nin.
Punyamu sempit dan enak sekali”. Nina diam saja. Setelah
beberapa lama dalam posisi itu, kemudian Nina berkata
“Sesak nafasku mas, badanmu berat”.
Aku tahu diri dan
kemudian menggeser badanku ke samping dan berbaring
tertelentang menikmati pengalaman yang baru kurasakan.
Nina bangkit berdiri dan menutupi tubuhnya dengan
bajunya sambil berjalan ke luar. “Mau ke mana Nin” tanya
Joko ketika Nina lewat di hadapannya. “Ke kamar mandi”
jawab Nina singkat sambil terus keluar kamar. Menyadari
Joko masih berada di pintu kamar itu, aku segera bangkit
dan mengenakan pakaianku.
“Koq sebentar?” tanya Joko “Aku
sudah lama tidak begituan Jok” jawabku sambil memakai
celana panjangku. “Aku belum sempat melihat banyak lho”
kata Joko. “Mau nggak main sekali lagi?” tanya Joko. Aku
terdiam sesaat dan kemudian menjawab “Untuk kali ini
kayaknya cukup Jok” kataku. “Kalau pulangnya kemalaman,
nanti isteriku bisa curiga” lanjutku lagi. Kemudian kami
keluar kamar meuju ruang keluarga lagi. Di ruang
keluarga, aku dan Joko mendiskusikan pengalaman yang baru
terjadi. Joko mengatakan bahwa pengalaman itu sangat
merangsang dirinya.
Aku mengungkapkan secara terbuka
bahwa keberadaan Joko sedikit-banyak menghambat situasi
panas yang sedang meningkat. Akhirnya, aku mengungkapkan
bahwa aku mau pulang. Joko kemudian memanggil Nina, yang
ternyata masih berada di kamar mandi yang ada di dalam
kamar mereka. “Lama amat sih … ” kata Joko menyambut
Nina yang keluar dari kamar. “Maaf ” kata Nina singkat.
“Aku pulang ya Nin” kataku. “Iya Mas …” kata Nina
tersipu malu. Sambil pulang, terbayang kembali kejadian-
kejadian yang baru aku alami. Dan sesampainya di rumah,
aku sempat bermasturbasi di kamar mandi, sebelum akhirnya
berbaring di samping isteriku yang telah tertidur lelap.
Pada hari Seninnya, Nina meneleponku di kantor. Nina
menceritakan bahwa Joko agak marah pada dirinya, karena
persetubuhan antara Nina dengan aku hanya berlangsung
sebentar saja. Menurut Joko, Nina kurang melayani akau
dengan baik. Pendek kata, Joko tidak puas dan ingin
mengulangi lagi. Aku bilang pada Nina bahwa aku bersedia
lagi, jika Joko meminta lagi padaku. Kemudian secara
bergurau Nina berkata “Kalau aku yang minta bagaimana Mas
Bambang….?”.
“Maksudmu?” tanyaku. “Iya…. tadi kan Mas
Bambang bilang bahwa kalau Mas Bambang bersedia
bermesraan lagi denganku kalau Mas Joko meminta lagi pada
Mas Bambang. Nah …, maksudku kalau aku yang minta ke
Mas Bambang bagaimana?”. “Siapa yang takut” jawabku.
Sudah hilang rupanya kecanggungan Nina kepadaku. Boleh
jadi hal tersebut disebabkan karena kami sudah pernah me-
lakukan hubungan intim sebagaimana layaknya suami-istri.
“Emangnya kamu serius Nin, ingin lagi bermesraan
denganku” kataku lirih takut ada yang dengar. “Serius
mas, aku ingin mencoba tanpa ada mas Joko.
Rasanya,
keberadaan dia mengganggu moodku. Waktu itu, kan
sebenarnya aku sudah pengin banget, tapi pas Mas Joko
maksud, aku jadi agak terhambat deh. Mas Bambang
merasakan tidak sih waktu si ‘adek’ aku pijit-pijit pakai
kemaluanku?”. “Terasa koq Nin, aku baru sadar waktu aku
menatapmu” jawabku. “Waktu itu, sebenarnya aku sudah
ingin banget dipuaskan. Tapi sengaja, aku bilang bahwa
aku merasa akit. Soalnya, aku takut Mas Joko cemburu
karena aku jadinya juga menginginkan persetubuhan dengan
Mas. Padahal kan Mas Bambang bisa merasakan sendiri bahwa
saat itu kan aku sudah basah banget di bawah sana” kata
Nina. “Iya Nin, waktu itu aku agak bingung. Kamu sudah
basah, tapi koq masih bilang sakit” kataku.
“Pada awalnya
memang agak sakit sih Mas.. soalnya punyamu lebih besar
daripada punyanya Mas Joko.
Tapi, habis itu rasanya enak
sekali. Padat rasanya punyaku dan terasa punyamu
menggesek seluruh dinding kemaluanku” sambung Nina. “Nah,
pas mas sudah keluar, aku kan buru-buru pergi ke kamar
mandi dan agak lama di sana. Waktu itu, di kamar mandi
aku menuntaskan apa yang belum mas tuntaskan.” kata Nina
lagi. “Sorry deh Nin, abis waktu itu rasanya enak banget
dan aku sudah lama tidak melakukan hubungan intim dengan
isteriku” kataku.
“Mengenai permintaanku tadi bagaimana Mas?” tanya
Nina. “Bagaimana caranya dong, kita bisa berhubungan
tanpa sepengetahuan Joko?” tanyaku.
“Begini Mas,
kebetulan aku minggu depan ditugaskan ke Bandung
sendirian. Mas bisa menemui aku di Bandung kalau mau.”
kata Nina. Akhirnya kami membuat janji untuk bertemu di
Bandung.
Setibanya di Bandung, nanti Nina akan
menghubungiku via handphone untuk memberitahukan ia
menginap di mana dan di kamar berapa.
Minggu depannya, setelah menerima telepon dari Nina,
jam 9 malam kutekan bel pintu kamarnya di hotel. Dengan
hanya mengenakan daster dan rambut terikat ke atas Nina
membuka pintu kamarnya. Bagaikan sepasang kekasih yang
sudah lama tidak bertemu, kami langsung berpelukan dan
berciuman segera setelah pintu kamar ditutup. Kutekan
tubuh Nina ke dinding, dan kugerayangi tubuhnya dengan
tetap tidak melepaskan ciuman kami. Karena tidak tahan,
segera kubopong Nina ke tempat tidur dan kemudian
kutindih dia dan terus kumesrai. “Mas … mas … stop
dulu dong … ” pinta Nina tersengal-sengal. “Kenapa Nin
?” tanyaku. “Mas ini ahh… baru datang langsung ganas
saja. Minum dulu kek atau lepas sepatu dulu kek” kata
Nina sambil bangkit lalu bersimpuh dihadapanku yang duduk
di tempat tidur. Nina kemudian dengan lembut membuka
sepatu dan kaus kakiku. Kemudian ia mengambilkan sandal
kamar yang disediakan oleh hotel dan memasangkannya ke
kakiku. Aku tersentuh dengan perlakuan Nina tersebut. Aku
belum pernah diperlakukan demikian oleh isteriku. “Aku
ambilkan minum dulu ya” kata Nina seraya berjalan ke arah
kulkas. Kemudian aku pindah duduk di kursi yang ada di
kamar itu. Nina meletakkan jus jeruk di meja sambil
mencubit tanganku dengan genit. Kurengkuh tubuh Nina,
tapi dia mengelak dan duduk di depan meja rias. Kuteguk
minuman yang disediakan Nina, sambil memandangi Nina yang
sedang menyisir rambutnya yang berantakan karena
serbuanku tadi.
Setelah membuka keran bathtub, kemudian Nina mengikat
kembali rambutnya di depan kaca di kamar mandi tersebut.
Kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuraba-raba kedua
payudaranya dari belakang, terkadang kuremas lembut.
Sementara tangan kiriku tetap di dadanya, tangan kananku
turun merambat hingga di selangkangannya, kuusap-usap
daerah kemaluannya, diselingi dengan tekanan-tekanan
lembut berputar. Nina mulai mendesah-desah, tubuhnya
mulai menggeliat-geliat. Mendapat respons demikian, aku
menjadi semakin semangat. Kemudian dengan ganas kucium
tengkuknya, kadang-kadang menggesesr ke sekitar
kupingnya. Desahan dan geliatan Nina semakin menjadi-
jadi. Aku makin bertambah semangat lagi, dan tanpa
kusadari remasan tanganku baik pada payudaranya maupun
selangkangannya semakin menggebu-gebu. Aku tidak tahan
lagi dan kukatakan pada Nina “Nin … aku masukin ya
sebelum kita mandi”. Nina mengangguk perlahan.
Dengan cepat kulepaskan baju dan celanaku serta
celana dalamku. Habis itu, kusingkap daster Nina ke atas,
dan kutarik celana dalamnya ke bawah. Lalu kutempelkan
kemaluanku yang dari tempat tidur tadi sudah tegang ku
belahan pantatnya, sehingga menyentuh bbir kemaluannya.
Dengan gerakan pelan kugesekkan kemaluanku ke
selangkangan Nina. Terasa hangat dan lembut. Pada posisi
ini, walaupun belum masuk ke vaginanya, aku sudah
merasakan jepitan pada kemaluanku. Mungkin itu jepitan
pahanya, tetapi mungkin juga jepitan dari bibir
kemaluannya.
Sementara itu, kedua payudara Nina terus
kuremas-remas. Kulirik ke kaca di depan kami, kepala Nina
hanya tertunduk saja, aku tidak dapat melihat wajahnya.
Sesekali kulihat kepalanya menggeleng ke kiri dan ke
kanan. Sesekali terdengar rintihannya “Masssssssssss,
shhhhhhhhh, shhhhhhh aduhhhhhh, ahhhhhhhhh …”. Setelah
kurasakan kemaluan Nina sudah mulai cukup basah, kupegang
kemaluanku dan kuarahkan ke vagina Nina. Secara perlahan
aku dorong kemaluan aku memasuki kemaluan Nina. “Aaawww
.asshhh” jerit Nina perlahan ketika kepala kemaluan aku
mulai masuk. Kutarik sedikit dan kemudian kutekan lagi
sehingga hampir seluruh kemaluanku masuk ke kemaluan
Nina. Setelah kudiamkan sebentar, kemudian aku mulai
menggerakkan kemaluanku maju mundur ke kemaluan Nina.
Desahan dan erangan Nina semakin sering terdengar. Ketika
kepala Nina mendongak ke belakang ke arahku, kulirik kaca
di depan kami, terlihat wajah Nina memerah dengan mata
terpejam. Suatu pemandangan yang sangat merangsang.
Kuteruskan gerakan-gerakanku dan karena nikmatnya, aku
tidak tahan lagi dan akhirnya dengan jeritan tertahan
kumuntahkan air maniku di dalam kemaluan Nina. Nina
menggeliat-geliat resah karena setelah eyakulasi,
gerakanku menjadi terhenti. “Mass .. aku belum nih ….
rasanya menggantung ….. ” kata Nina seakan-akan protes
dengan apa yang baru saja terjadi.
“Maaf deh Nin …. enak banget sih” kataku. “Sini aku
bantuin supaya kamu tuntas” sambungku lagi sambil menarik
tubuh Nina ke arah bathtub. Kemudian kami berdua masuk ke
dalam bathtub dalam posisi aku duduk di belakang Nina.
Tangan kiriku mulai kembali meraba-raba payudara Nina,
sedangkan tangan kananku berputar-putar menggerayangi
kemaluannya di dalam air. “Shhh oohhhh ..ahhh !!” kembali
terdengar bunyi-bunyian dari mulut Nina. Secara perlahan,
tubuh kami mulai setengah terbaring, dengan posisi
tubuhku bersandar pada ujung bathtub, sedangkan tubuh
Nina bersandar di tubuhku. Mulutku juga aktif menciumi
leher dan telinga Nina. Setelah beberapa lama kemudian
kurasakan tubuh Nina mulai menegang dan tanganku mulai
terjepit agak keras oleh kedua pangkal pahanya.
Kuteruskan gerakan-gerakanku, sampai akhirnya kudengar
jeritan tertahan “massss, acccchhhhhhh …… ” disertai
dengan jepitan yang sangat keras pada tangan kananku. Aku
menduga bahwa Nina sedang mencapai orgasme, dan ternyata
memang benar. Secara perlahan-lahan tubuh Nina yang
tadinya sangat tegang mulai mengendur dan rileks di
pelukanku. “Ma kasih ya mas ” kata Nina singkat. Sejenak
kami terdiam, dan setelah beberapa lama kemudian kami
mulai mandi, dengan saling menggosok tubuh kami satu sama
lainnya.
Setelah mandi, sambil berbaring berpelukan di tempat
tidur, kami membicarakan beberapa hal. Nina banyak
bercerita tentang hubungannya dengan Joko. Setelah
beberapa lama kemudian kembali kami memadu nafsu kami di
ranjang hotel yang sempit itu, sampai akhirnya kami
tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Keesokan paginya,
sebelum aku kembali ke Jakarta, kami sempat berhubungan
sekali lagi. Nina mengemukakan bahwa ada satu pengalaman
baru yang ia alami selama dua hari kami berhubungan,
yakni untuk pertama kalinya ia merasakan nikmatnya
kemaluannya diciumi. Menurut Nina, Joko tidak pernah mau
menciumi kemaluannya, tapi sering meminta Nina untuk
menciumi kemaluan Joko.
Seminggu setelah kejadian di Bandung tersebut, Joko
menelepon dan meminta kesediaanku untuk mencoba lagi
berhubungan dengan Nina. Seakan belum terjadi apa-apa,
aku mensyaratkan kepada Joko agar aku mencoba dulu
berhubungan dengan Nina tanpa dia di sekitar kami. Dengan
agak berat hati, Joko menyetujui syaratku itu. Belum tahu
saja dia … bahwa aku dengan Nina sudah cukup akrab,
bahkan sejak pulang dari Bandung, hampir tiap hari kami
berhubungan melalui telepon.
Pada hari yang telah kami sepakati, Joko pamit ingin
jalan-jalan setelah kami selesai makan malam di rumah
Joko. Sepeninggal Joko, Nina menghambur ke pelukanku
seraya mengungkapkan bahwa ia kangen sekali, sampai-
sampai hampir tiap hari ia bermasturbasi sambil mengingat-
ingat kejadian di Bandung. Kugendong tubuh Nina ke kamar
dimana kami untuk pertama kalinya bersetubuh. Sesampainya
di kamar itu, kubaringkan tubuh Nina di tempat tidur
dengan langsung menindih, menciumi dan meraba-raba
tubuhnya.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba meronta-ronta
dan kemudian bangkit duduk. Belum hilang rasa terkejut
dan bingungku, tiba-tiba lagi kemudian Nina mendorong
tubuhku hingga terbaring dan dengan cepat membukai
kancing bajuku dan kemudian melepaskan celana panjang dan
celana dalamku. Setelah itu ia dengan agresif mulai
menciumiku. Mulai bibir, kuping, merembet ke leher dan
dada. Bahkan Nina cukup lama menciumi dan mengulum
putingku. Geli-geli enak rasanya.
Dari dada, ciuman Nina merambat ke perut dan kemudian
ke pangkal paha. Berbeda dari perkiraan dan harapanku,
dari pangkal paha, ciuman Nina tidak menyentuh
kemaluanku. Padahal aku ingin sekali agar kemaluanku
dicium atau setidak-tidaknya diraba oleh Nina.
Ketika
ciuman Nina mulai turun, aku sebenarnya secara tidak
sadar sudah menarik kepala Nina agar berada tepat di
tengah selangkanganku. Tetapi, tampaknya Nina tidak
memenuhi keinginanku itu.
Bibir dan lidah Nina terus
merembet ke bawah, ke bagian dalam dari paha kananku
sampai ke dengkul, termasuk ke bagian belakang dari
dengkul. Di bagian belakang dengkul ini, kurasakan lidah
Nina menyapu-nyapu. Nikmat dan menggoda rasanya, karena
sebelumnya aku belum pernah merasakan hal itu. aku
hanya dapat mendesah dan menahan napas saja. Dari dengkul
kanan, Nina pindah ke dengkul kiri, dengan melakukan hal
yang sama. Secara perlahan kemudian merambat ke atas, ke
bagian dalam paha kiriku, kemudian ke pangkal paha. “Nin
…. Ayo dong” pintaku. Nina rupanya memang sengaja ingin
menggodaku. Agak berlama-lama ia menciumi pangkal pahaku,
dan bahkan kemudian turun lagi ke bawah. “Nin …. Please
….” pintaku lagi. Nina tidak juga segera memenuhi
permintaanku, tetapi ia kemudian mulai menciumi bagian
bawah kantung kemaluanku. Lumayanlah …. Batinku dalam
hati. Dan akhirnya, Nina mulai menciumi kemaluanku dari
samping, baik kiri maupun kanan, tetapi kepala kemaluanku
belum dijamahnya. Akhirnya, dengan sentakan yang cukup
keras, kutarik kepala Nina hingga mulutnya menyentuh
kepala kemaluanku. Mulailah ia mencium, menghisap dan
menyedot kemaluanku ….. hingga pada akhirnya kemaluanku
memuncratkan isinya. Aku agak terkejut sekaligus terharu
ketika Nina, menampun air maniku dimulutnya, bahkan
menelannya. Jangankan menelan, untuk sekedar menciumi
kemaluanku saja, isteriku sangat jarang. Hitungannya
masih bisa dihitung dengan jumlah jari dalam satu tangan.
Jijik dan tidak pantas kata isteriku. Terus terang, aku
merasa tersanjung waktu Nina menelan air maniku. Nina
….. Nina …..
“Tadi kamu ngeledek aku ya Nin …. ” kataku. “Orang
sudah pengen banget .. eh malah turun ke dengkul lagi ”
lanjutku lagi. Nina tertawa kecil dan kemudian berkata
“Tapi enak kan …” dengan yakin. “Uueenakk buaanget …
” jawabku. “Kamu tidak jijik Nin menelan maniku?”
lanjutku bertanya. “Biasanya sih iya” kata Nina, “tapi
tadi aku tidak sadar dan tidak merasa jijik, malah aku
juga ikut menikmatinya sepenuh hati” kata Nina. Dalam
hati aku membenarkan perkataan Nina. Ketika dimesrai Nina
tadi, aku merasakan pelayanan dan penyerahan yang total
dari Nina, bahkan tidak memperdulikan badanku yang belum
mandi, karena tadi aku langsung dari kantor ke tempat
ini. Suatu ketotalan yang bahkan rasanya belum pernah aku
dapatkan dalam berhubungan dengan isteriku. “Biasanya aku
menolak jika Mas Joko mau mengeluarkan maninya di
mulutku, apalagi menelannya” sambung Nina di tengah
lamunanku. “Ma kasih ya Nin” kataku sambil mengelus-elus
tubuhnya. “Aku juga mas” kata Nina. “Anggap saja itu
sebagai imbalan dari pengalaman baru yang Mas berikan di
Bandung waktu itu” kata Nina.
“Ya mana Nin?” tanyaku
sambil sekali-kali memberikan kecupan ringan di pipi dan
kupingnya. “Itu lho, yang punyaku Mas ciumin. Itu kan
juga sebelumnya aku tidak pernah mengalaminya” jawab Nina
sambil membalas elusanku, dengan mengelus-elus dadaku.
Kecupan-kecupan ringan terus kulakukan di wajah dan
kuping Nina. Bahkan aku mulai merembet turun ke leher,
dada, perut … dan akhirnya kubalas apa yang Nina
lakukan padaku. Ketika aku menciumi kemaluannya, Nina
membalikkan arah tubuhnya, sehingga kami bisa saling
meciumi kemaluan satu sama lainnya. Kadang-kadang Nina
berhenti mencium, ia hanya menggerak-gerakkan pinggulnya.
Aku mengira ia sedang menikmati rangsangan-rangsangan
yang kuberikan. Pada posisi itu, entah berapa kali Nina
mengalami orgasme aku tidak tahu persis. Tetapi, aku
merasa setidaknya tubuh Nina sempat meregang-regang
secara ritmis sebanyak dua kali. Karena kemaluanku sudah
tegang, akhirnya kubalikkan tubuhku dan kumasukkan
kemaluanku ke kemaluan Nina. Kugerakkan pinggulku turun
naik. Sampai akhirnya aku eyakulasi di dalam kemaluan
Nina.
Di tengah perbincangan kami setelah permainan yang
melelahkan tersebut, Joko datang dan langsung masuk
kamar. Ia menanyakan bagaimana keadaan kami. Aku
mengatakan bahwa kami sudah berhasil melakukan intim.
Kemudian Joko meminta kami untuk bermain lagi. Tetapi,
entah kenapa, saat itu kemaluanku tidak lagi dapat
berdiri tegak. Setelah dicoba beberapa lam, tetap tidak
dapat tegak walaupun terkadang dapat agak membesar. Boleh
jadi, hal itu disebabkan karena aku sudah dua kali
mencapai kepuasan malam itu. Boleh jadi juga karena
keberadaan Joko mengurangi nafsu aku dan Nina. Joko
terlihat sedikit kecewa ketika kukenakan pakaianku dan
pamit pulang.
Keesokan siangnya Nina meneleponku di kantor. Dengan
terisak ia bercerita bahwa ia dan Joko baru saja
bertengkar hebat. Tanpa kami sadari, rupanya Joko merekam
dengan kamera video apa yang kami lakukan di kamar ketika
ia pergi. Melalui hasil rekaman itulah Joko mengetahui
apa yang kami lakukan di kamar itu. Joko sangat marah,
karena ketika ia tidak ada kami dapat berhubungan
sedemikian panas dan binal. Nina menceritakan bahwa Joko
juga mengungkit-ungkit beberapa hal yang tidak pernah
Nina lakukan padanya.
Khususnya karena Nina mau menerima
air maniku di mulutnya bahkan menelannya, serta Nina
bersedia menciumi kemaluanku setelah kemaluan tersebut
masuk ke dalam kemaluan Nina. “Sialan …” kataku dalam
hati. “Suka ngintip dan merekam, eh koq tidak sadar kalau
direkam”.
Kuberikan beberapa saran praktis untuk Nina saat itu,
sambil membuat janji untuk bertemu pada siang hari.
Setelah kejadian itu, Joko tidak pernah menghubungiku
atau meminta tolong lagi padaku. Tetapi, kadang-kadang
aku masih berhubungan intim dengan Nina. Entah itu di
hotel, di villa keluarga kami, bahkan pernah juga di
rumah Joko ketika ia bertugas ke anjungan minyak.
Diilhami dengan apa yang dilakukan Joko, dalam berbagai
kesempatan aku juga mencoba merekam permainanku dengan
Nina