Jumat, 11 November 2011

Harga Diri Dinilai Dari Iman Dan Akhlak

Harga diri dinilai dari iman dan akhlak

Alhamdulillah, syukur luar biasa ku panjatkan kepamu ya Robb, karena nikmat dan karunia-Mu hambamu ini masih dapat menyapa sobat-sobat sekalian dan sekaligus berbagi kisah seorang lelaki yang tidak punya apa-apa mampu membuat Rasulullah Saw merasa kehilangannya.

Kisah ini menceritakan seorang lelaki yng miskin lagi papa. Ia mengenakan pakian yang sudah using lagi dekil, perutnya kosong, dan tidak beralas kaki. Ia tidak diketahui nasabnya, tidak punya kedudukan, harta, dan tidak punya keluarga, dia tidak mempunyai rumah tempat untuk berteduh, tidak punya perabotan maupun barang.

Ia minum dari kolam umum bersama dengan orang-orang lain yang mendatanginya dengan kedua telapak tangan dan beralaskan pasir. Akan tetapi, dia adalah seorang yang rajin berdzikir menyebut nama Tuhannya dan membaca Kitab-Nya lagi tidak pernah absen dari shaff pertama, baik dalam sholat maupun di medan pertempuran.

Suatu hari berlalu di hadapan Rasulullah Saw, lanjut beliau memanggilnya dengan menyebut namanya: “Hai Julaibab, mengapa kamu tidak menikah?” Julaibab menjawab: “Wahai Rasulullah, siapakah yang mau menikah denganku yang tanpa harta dan tanpa kedudukn ini?”

Pada hari yang lain julaibabpun berlalu lagi dihadapan Rasulullah, dan Rasulullah menanyakan hal yang sama dan Julaibabpun menjawab dengan hal yang sama pula. Selanjutnya pada pertemuan ketiga beliau mengulangi lagi pertanyaannya dan Julaibab menjawabnya dengan jawaban yang sama dengan sebelumnya. 

Akhirnya, Rasulullah Saw memerintahkan kepada Julaibab untuk pergi ke rumah si Fulan seorang Anshar dan menyampaikan berita ini kepadanya: “Rasulullah mengirim salam buatmu dan meminta kepadamu agar menikahkanku dengan anak perempuanmu.”
Orang Anshar tersebut berasal dari keluarga yang terpandang dan terhormat, maka dia menjawab: “Salam kembali untuk Rasullah Saw, tetapi bagaimana aku akan menikahkanmu dengan anakku perempuanku, hai julaibab, sedang kamu tidak punya uang bahkan kedudukan.

Lantas anak perempuan yang beriman pun mendengar berita ini dan berkata kepada orang tuanya: “Pantaskah ayah dan ibu menolak permintaan Rasullah Saw? Tidak, demi Allah yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya.”
Akhirnya, berlangsunglah pernikahan yang diberi barakah dan bahagia yang dikaruniai keturunan yang barakah pula karena rumah tangga yang dibangun atas landasan taqwa kepada Allah dan ridha-Nya.

Ketika seruan jihad dikumandangankan, Julaibab ikut dalam peperangan dan berhasil membunuh tujuh orang kafir sebelum ia sendiri gugur dalam pertempuran dijalan Allah dengan tubuh tergeletak di tanah dalam keadaan ridha kepada Allah Swt dan kepada Rasul-Nya serta terhadap prinsip yang dibelanya hingga dia gugur.

Rasulullah Saw pun memeriksa orang-orang dan para sahabat mengumumkan nama-nama mereka yang gugur. Akan tetapi mereka lupa kepada Julaibab sehingga namanya tidak tersebut karena Julaibab bukan orang terpandang lagi berkedudukan namun Rasulullah Saw Ingat terhadap Julaibab dan merasa kehilangan, setelah diperiksa rupanya Julaibab gugur dalam pertempuran dalam keadaan tertutup pasir

Sobat sekalian, sungguh luar biasa sosok Julaibab ini yang tanpa harta ataupu kedudukan dapat meraih kebahagiaan sejati dan ketika akhir hidupnya rasulullah merasa kehilangan akan sosok Julaibab.

Subhanallah
Kisah diatas memberi banyak gambaran kepada kita bahwa keimanan dan ketaqwaan dapat menghantarkan kita kepada kebahagiaan yang hakiki dan menjujung tinggi harga diri, karena sesungguhnya harga diri dinilai dari iman dan taqwa.

Rasa syukur atas karunia dan nikmat yang telah diberikan dapat membawa kita ke karuni yang selanjutnya, yang tentunya karunia luarbiasa yang sedang menanti kita.
Kemiskinan, kedudukan, tidak terkenal bukanlah menjadi factor untuk dapat meraih sebuah prestasi



diambil dari sebuah buku karangan Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni

Minggu, 06 November 2011

TV ONLINE

Selamat Menonton




Kesenangan Yang Kekal Hanya Diakhirat


Apakah sobat sekalian menginginkan hidup selamanya, ataupun ingin awet muda, sehat, berkecukupan lagi kekal?
Jika sobat menginginkannya, sesungguhnya semua hal tersebut adanya tidak ada didunia ini , melainkan di akhirat sana.

Sobat, kita tahu bahwasanya dunia yang fana ini penuh dengan sandiwara, kita didunia hanya mencari bekal untuk nantinya menuju di kehidupan yang kekal yaitu di akhirat.

Sesungguhnya kehidupan dunia ini telah ditetapkan oleh Allah sebagai negeri yang fana dan tempat menjalani ujian atau dengan kata lain dikenal dengan sebutan negeri main-main dan senda gurau serta kesenangan yang hakikatnya memperdaya kita untuk mencari bekal yang sesungguhnya di dunia yang fana ini.

Sebuah kisah dari seorang penyair yang menjalani hidupnya dalam keadaan miskin dan papa, padahal dia berada dipuncak usia mudanya.

Keinginannya untuk memiliki uang tidak tercapai dan hasratnya untuk mempunyai istri juga tidak tercapai. Ketika usianya telah tua, dengan rambut dikepala yang sudah putih beruban, tulang-tulang yang tidak lagi kuat, ia mendapat limpahan harta yang datang dari segala penjuru, dan istri pun begitu mudah dia dapatkan. Ia mengeluh mengalami nasib yang kontradiksi ini,

Sobat sekalian, bukankah Allah Swt telah berfirman dalam sura Faathir ayat 37

….”Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?”

Serta dalam QS Al 'Ankabuut ayat 64

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”


Dari kisah diatas hikmah luar biasa dapat kita ambil, ketika kita berada dalam keadaan seperti diatas seharusnya kita berintropeksi diri,  kenapa hidup kita menjadi seperti ini, padahal hidup yang sesungguhnya telah menanti kita, lalu bekal apa yang harus kita bawa.

Kesenangan Yang Kekal Hanya Diakhirat
Dunia Tidaklah Kekal, Namun Kekekalan Adalah Akhirat


Jangan Bersedih
Sumber gambar: hilmanmuchsin.blogspot.com

Selasa, 01 November 2011

KEKALAHAN ADALAH JALAN KEMENANGAN

Selamat pagi sobatku yang luar biasa
Pernahkah sobat sekalian mengalami suatu kekalahan atau kegagalan

Hal tersebut yang saya rasakan tadi malam
saya diajak oleh teman online saya untuk ikut bermain dipermainan catur online

dan sayapun memenuhi ajakan beliau dan ikut andil dalam permainan
dengan bekal seadanya sayapun memberanikan diri untuk bermain melawan  teman saya yang bisa dibilang cukup hebat tapi bagi saya beliau sungguh hebat.

Percaya diri telah berkobar didalam hati seiring disbanding rasa penasaran yang cukup besar.
Permainanpun dimulai, sayapun menikmati permainan ini

Pertandingan pertama dimenangkan oleh teman saya
Skor  1-0
Dengan rasa keingin tahuan yang bergelora, saya meminta untuk rematch (bertanding ulang)

Pertandingan pertama saya mainkan tanpa strategi, dan hasilnya kalah
Permainan kedua ini sayapun juga belum bisa menciptakan strategi dan diakhiri dengan kekalahan pula

Permainan ketigapun saya ambil untuk memenuhi rasa penasaran, namun hasil masih tetap sama, kekalahanlah yang saya dapat.

Dan dipermainan terakhir inilah saya benar-benar mengeluarkan semua kemampuan yang ada (wish lebeh) untuk berusaha mengimbangi permainan beliau. Namun ternyata kekalahan masih berpihak dari saya.
Setelah permainan terkahir, tertegun lesu

Hal tersebut tidak akan pernah hilang dibenakku
Seketika saya mengingat kisah orang-orang sukses yang dulunya mencoba tapi gagal. Tidak hanya satu dua kali namun ratusn kali bahkan sampai ribuan kali.

Dan terbukti dari kegagalan-kegagalan yang telah beliau-beliau alami. Beliau-beliau dapat menemukan ataupun menciptakan suatu hal yang berguna untuk seluruh manusia hingga saat ini.
Dan hal itu yang menjadi motivasi tersendiri dibalik kekalahan yang ku alami

Jangan takut akan kekalahan
Sesungguhnya kekalahan jalan menuju kemenangan

Motivas tetap semangat dan pantang menyerah
Sobat sekalian, “Janganlah cepat menyerah hanya karena kegagalan, Karena kegagalan hanya sekedar menyapa anda dan akan cepat berlalu bila anda menyapanya dengan penuh senyuman dan semangat baru”

“Jadikan Sebulah Kegagalan sebagai jembatan kemenangan, sebagai jembatan kesuksesan”
Salam Hangat 

sumber gambar: politikana.com

Jumat, 28 Oktober 2011

KENIKMATAN ADALAH UJIAN



Terlebih dahulu saya menyapa sobat-sobat sekalian dimanapun sobat berada. bagaimana kabar sobat sekalian?
Semoga tetap dalam limpahan nikmat dan karunia-Nya.

Berbicara tentang nikmat, sungguh luar biasa nikmat yang diberikan oleh Allah Swt, tanpa disadari bahwa nikmat telah mengalir bagaikan darah yang mengalir didalam tubuh kita. 


Namun kebanyak nikmat diartikan sebagai materi, jabatan, dll. Padahal kita bisa bernafaspun itu sudah nikmat, kita bisa menjalani aktifitas dihari inipun sudah nikmat, termasuk sobat yang sampai sekarang masih bisa membaca postingan saya di blog ini itupun juga nikmat yang luar biasa, namun terkadang kita tidak merasakan bahwa itu adalah bagian dari nikmat yang Allah Swt berikan untuk hambanya.


Padahal sebuah kenikmatan, sebuah kemuliaan yang diberikan kepada kita semata-mata hanyalah sebuah ujian, hanyalah sebagai penguji bagi kita, penguji apakah kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikan untuk kita.

Allah Swt telah melimpahkan nikmat-Nya untuk melihat siapa hamba yang menerimanya dengan rasa bersyukur, memelihara, dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Dan juga untuk melihat siapa hamba yang menelantarkannya, menyia-nyiakannya, mengingkarinya dan menggunakan untuk menentang yang memberi.

Masihkah kita ingat kisah Nabi Sulaiman as yang ketika itu melihat singgasana Ratu Balqis. Yang ketika itu Nabi Sulaiman as melihat singgsana Ratu Balqis telah berada di hadapannya. 

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

Semua hal yang ada didunia ini adalah bentuk dari ujian yang Allah Swt berikan kepada kita. Ujian tidak selalu dalam bentuk musibah melainkan dengan memberikan nikmat-nikmat.

Dia menguji hambanya dengan nikmat sabagimana Dia menguji hambanya dengan musibah. Seperti pada ayat berikut: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku.". “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".  (QS. Al Fajr : 15-16).

Dari ayat diatas, kita dapat belajar bahwa, tidak semua atau belum tentu hamba yang diberikan nikmat oleh Allah Swt berarti hamba yang dimuliakannya. Karena kenikmatan juga adalah bentuk dari ujian

Serta sebaliknya hamba yang diberi cobaan, diberi musibah, disempitkan rizkinya bukan berarti Allah Swt telah menghinakannya, itu tidak.

Sobat sekalian, selama kita masih berpijak dibumi ini maka itu semua adalah ujian yang diberikan kepada kita sebagai khalifah dibumi




sumber gambar: http://ardani554.blogspot.com

Minggu, 23 Oktober 2011

KERIDHOAN PENGHANTAR KESUKSESAN


Sebuah impian, sebuah keinginan yang sering terbayang dibenak. Ketika semangat untuk mewujudkan apa yang diinginkan, apa yang diimpikan sedang berkobar-kobar laksana api yang tengah membakar sebuah sumber minyak, seakan semua fikiran, semua jiwa bersatu untuk mewujudkan hal tersebut.Yakin dengan pasti jikalau impian tersebut akan tercapai.

Keringat mengucur, waktu yang tersita, tenaga, fikiran bahkan juga biaya menjadi taruhan untuk sebuah keinginan. Namun terkadang semua itu menjadi nihil, apa yang diharapkan dan diperjuangkan belum mencapai apa yang diinginkan.


Bagaimana rasanya bila hal tersebut terjadi pada anda?

Jatuh lemas, seperti tertimpa sesuatu yang berat dan tidak bisa lagi untuk bangun. Keadaan yang sungguh-sungguh membuat seluruh raga tak berdaya.

Sulit memang menerima sesuatu kenyaataan yang pahit, yang sama sekali tidak kita inginkan. Namun itulah kenyataan, seperti kata pepatah “Ibarat Nasi Sudah Menjadi Bubur”. Semua sudah terlanjur dan mau tidak mau harus kita terima sebagai kenyataan yang harus kita hadapi.

Hanya ada dua pilihan, bangkit atau hanya meratapi. Jika memilih keputusan untuk bangkit berarti siap menerima kenyataan dan siap untuk melanjutkan. Namun bila memilih meratapi, maka selamanya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah jika tidak mengubah keputusan.

Terkadang kita dengan mudahnya mengucapkan saya rela, saya ridha tanpa disadari kita tengah bertarung dengan jiwa kita, gejolak-gejolak jiwa yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.

Menerima dengan lapang dada berarti rela menerima segala kenyataan dalam bentuk apapun, padahal rela adalah sikap yang berkaitan dengan kondisi jiwa, yang mudah mengucapkannya namun sulit untuk mengaplikasikannya.

Padahal secara kejiwaan jika kita menerima, jika kita ridha dengan kenyataan yang terjadi apaun bentuknya maka hal tersebut secara spontanitas akan membangun motivasi yang kuat didalam diri kita. Bangkit lalu mencoba kembali, itulah yang akan terjadi.

Bukannya hal-hal tersebut telah nyata, dan banyak dialami oleh orang-orang sukses didunia, banyak sekali miliader-miliader yang memiliki kisah seperti hal diatas, namun mereka tetap menerimanya sebagai sebuah jalan dalam mencapai kesuksesan.

Sobat sekalian hidup itu memang liku-liku, karena liku-liku itulah kita dapat memahami arti sebenarnya jalan liku-liku tersebut demi menyongsong jalan selanjutnya. Kehidupan tidak selalu tepat dengan apa yang kita inginkan, tetapi pasti ada batu sandungan yang akan menghalangi langkah ini, untuk dapat mengoreksi diri dan sebagai bekal menuju rintangan-rintangan selanjutnya. Hanya ridha dan berlapang dada yang menjadi obat dikala sedang tersandung untuk lebih kuat menghadapi sandungan-sandungan lain, menuju kesuksesan.

“Ridhalah dengan segala sesuatu, karena hal tersebut berasal dari Sang Pencipta”


Jumat, 21 Oktober 2011

KEBERANIAN MENGAMBIL KEPUTUSAN


Sobat sekalian pasti pernah mengalami keraguan dalam pengambilan keputusa.
Mengambil keputusan tidaklah mudah, tidak hanya keberanian saja yang diperlukan namun juga bagaiman kita mencermati pilihan yang ada untuk selanjutnya dijadikan sebuah keputusan.

Seringkali kita menunda untuk mengambil sebuah keputusan, atau tidak mengambil keputusan sama sekali, karena terdorong oleh rasa takut. Rasa takut itulah yang nantinya akan penundaan untuk mengambil keputusan atau bahkan kegagalan dalam mengambil sebuah keputusan.

Keputusan membutuhkan pengorbanan

Saya setuju dengan kalimat diatas, suatu keputusan memang membutuhkan pengorbanan.
Jikalau kita memutuskan untuk memilih jalan yang kanan Maka jalan Kiri akan dikorbankan, namun sebaliknya jika kita memilih jalan yang kiri maka yang kanan harus direlakakan.

Namun untuk memilih jalan kanan atau kiri harus butuh keyakinan dan keberanian. Pengambilan keputusan yang arogan akan menghilangkan sebuah kesempatan yang seharusnya ada ketika kita memutuskan sesuatu. Pengambilan keputusan memerlukan sebuah pemikiran yang tuntas untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik nantinya.

Serta hal yang paling penting adalah keberanian mengambil sebuah keputusan dan menjalaninya.
Namun dalam pengambilan keputusan jangan melihat dari satu sisi saja, lihatlah dari berbagai sisi lain. 

Karena terkadang sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain. Dan sebaliknya, terkadang sesuatu tersebut baik untuk orang lain, namun tidak baik untuk kita.

Keberanian mengambil keputusan juga menunjukkan kepada kita tentang jiwa kepemimpinan.
Seperti Rasulullah Saw, yang ketika itu sedang meminta saran kepada kaum muslim sehubungan dengan rencana melakukan perang Uhud, sedang beliau berada di atas mimbarnya.


Ketika mereka menyarankan kepada beliau untuk berangkat, beliaupun langsung mengenakan baju besinya dan mengambil pedangnya. Ketika mereka berkata: “Barangkali kami telah memaksa engkau, wahai Rasulullah. Bagaimana bila engkau tetap tinggal di Madinah?” Rasulullah Saw menjawab: “Pantang bagi seorang nabi bila telah mengenakan baju perangnya untuk melepasnya kembali sebelum Allah memutuskan antara dia dan musuhnya”. Selanjutnya, beliau bertekad untuk tetap berangkat ke medan Uhud.

“Hidup adalah pilihan, akan menjadi apa dimasa depan tergantung keputusan diri masing-masing. Kesuksesanpun juga pilihan, jadi ambillah keputusan yang tepat”