Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2012

Apa yang Kita Butuhkan, Itulah yang Allah Berikan


Seorang pasien datang ke tempat prakter seorang dokter.
Setelah menyampaikan keluhan keluhan rasa sakitnya, dokter pun memberikan pasien selembar resep yang tulisannya hanya 2 baris.

Si pasien menerima resep itu sambil ngomel dalam hati, 'Dokter itu bagaimana sih? Sekolah tinggi tinggi kok ilmunya cuma 2 baris gini doang'.

Apa hikmah dari kejadian tersebut?

Seandainya kita bertamu ke rumah teman, lalu tuan rumah memberi kita segelas kopi dan sesendok gula, apakah kita akan mengatakan bahwa dia hanya mempunyai segelas kopi dan
sesendok gula saja?

Atau seorang ayah yang memberi uang saku kepada anaknya yang masih SD dua ribu rupiah, apakah berarti uang ayah hanya dua ribu saja?

Begitulah Allah memberi perumpamaan kepada manusia. Allah selalu memberi kepada hambaNya apa yang dibutuhkanpadahal perbendaharaanNya tidak terbatas banyaknya.

DIA tidak memberi semua yang kita inginkan karena bisa jadi itu sama sekali tak bermanfaat bagi hambaNya, bahkan sangat mungkin justru akan mendatangkan mudharat.

Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui. Apa yang kita butuhkan, itulah yang Allah berikan. BUKAN apa yg kita inginkan.

Sabtu, 26 Mei 2012

Dulu Aku Suka Pada Mu Dulu Aku Memang Suka


"Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka"
Buat jomblobers yang sedang galau, yang sedang meratapi kepengian sang pujaan hati, dia yang diharapkan bisa menjadi pendampingi mu, ternyata dia meninggalakan mu, meremukan harapan mu, dan hanya menyisakan kenangan.

Merasa sedih itu wajar, merasa berduka karena terluka itu boleh, asal semua itu dilakukan sewajarnya aja, jangan kamu menangis tiga hari tiga malem, sampe-sampe di kamar mu penuh tumpukan tisu.

Patah hati jangan bikin diri mu seolah-olah tidak ada harganya lagi dan menyalahkan diri sendiri, sibuk mencari-cari alasan kenapa dia sampai begitu tega merobek hati mu.. ceile..

Sekarang pahami lah, (life must go on) boleh-boleh aja kamu sulit melupakan dirinya.. tapi coba kamu pikir sebaliknya pacaran telah memberi pengaruh buruk kan? selepas dari dia kamu malah jadi ngedown gitu.. makan gak mau.. tidur gak nyenyak.. mata kaya panda.. dikit-dikit nangis.. itu hanya meyiksa mu..

Bersandar kepada sesuatu yang bukan selain Allah yang sifatnya rapuh, tidak kekal suatu saat akan meninggalkan mu. Allah sedang mendewasakan mu mengajarkan kepada mu untuk lebih kuat menerima kenyataan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, bila tidak sekarang mungkin nanti kamu akan kehilangan apa-apa yang kamu cintai kecuali cinta kepada Allah,, Zat yang Kekal..

Galau, patah hati bukan hanya milik kamu saja, bukan cuma kamu yang merasakannya namun hampir setiap orang mengalaminya, kalau yang lain mengatakan belum pernah galau.. ya kamu beruntung,, sudah dipilih lebih awal agar kamu tahu di dalam kelemahan kamu akan menemukan kekuatan, kamu beruntung Allah memperhatikan mu, coba jika Allah cuek pada mu, membiarkan mu asik dengan kegiatan dosa-dosa mu.. sadar lah.. Allah menyayangi mu.. sudah seharusnya kamu membalas cintaNYA...

So dulu kamu memang suka padanya tapi sekarang biar lah rasa itu hilang, dan perbaiki lah hati mu yang robek dan suatu saat kamu akan menemukan yang lebih baik. Hanya kepada Allah kami berserah diri, dan hanya kepadaNYA kami memohon pertolongan..

untuk menghibur hati mu... nih tak nyanyiin lagu'y bang haji bolot.. eh salah.. bang haji rhoma irama.. :D,, jrrreeeennggg.

Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka (Ya-ya-ya)
Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila (Ya-ya-ya)

Sebelum aku tahu kau dapat merusakkan jiwaku (o-o, o-o)
Sebelum aku tahu kau dapat menghancurkan hidupku

Sekarang tak-tak-tak-tak
‘Ku tak mau tak mau tak-tak-tak-tak-tak
‘Ku tak mau tak mau tak (‘ku tak mau tak)

Sekarang tak-tak-tak-tak
‘Ku tak sudi tak sudi tak-tak-tak-tak-tak
‘Ku tak sudi tak sudi tak (‘ku tak sudi tak)

Jumat, 25 Mei 2012

Belajar Di Pasar Dan Kolong Jembatan


Judulnya aneh ya, kok Belajar Di Pasar Dan Kolong Jembatan
Yaa..tentu saja bukan belajar formal sperti di sekolah, tapi belajar mencari hikmah dari suatu peristiwa.

Ada hadist yang mengatakan bahwa hikmah itu adalah harta orang-orang mukmin yang hilang, dimanapun ia kau dapatkan maka ambillah. Di tulisan singkat ini aku ingin memotivasi saudara-saudaraku (khususnya ikhwan) yang msih ragu untuk menikah karena faktor pekerjaan yang katanya belum mapan.

Betapa banyak kaum adam yang menunda-nunda menikah atau takut tidak mampu menafkahi padahal calon sudah ada dan hati sudah kebelet nikah, alasannya cuma satu, pekerjaan belum mapan.

Karena itulah maka saya ajak anda Belajar Di Pasar. untuk apa..?
Tanyakan pada mereka yang jualan kerupuk, jualan tempe, jualan bunga mawar, atau apa saja..
Anda akan kaget bahwa mereka punya istri dan sudah memiliki 2, 3, ato 4 orang anak, dan semuanya sekolah..

Tuh kan? bisa dibilang pekerjaan mereka adaalh pekerjaan (maaf) kelas bawah, dagangan mereka juga beulm tentu tiap hari laku, tapi mereka tidak ragu menikah, karena mereka yakin rejeki sudah ada yang menjamin..Allah SWT.

Lalu bagaimana dengan anda yang pekerja kantoran dan dapat gaji tetap tiap bulan...? sering-seringlah ke pasar yaa.. :)

Kita beralih ke Belajar Di Kolong Jembatan..,belajar apa kita disana?
Tanyakan pada bapak bapak pemulung itu, sudahkah mereka menggenapkan separuh agama? owh anda pasti malu mendengar jawabannya.

Mereka sudah menikah, punya istri dan beberapa anak. Tanyakan brapa pendapatan mereka tiap bulan dari hasil memulung? saya yakin gaji anda di kantor masih lebih baek daripada bapak bapak pemulung itu.

Lagi lagi kita temukan hikmah disana, bahwa keyakinan mereka kepada Allah tentang rejeki tidak pernah mereka ragukan sedikitpun.

Lalu bagamana dengan kita yang pekerjaannya jauh lebih baek daripada para pemulung? Sering seringlah berkunjung ke kolong jembatan yaa.. :)

Sebagai penutup, apakah yang kita dapatkan setelah belajar dipasar dan kolong jembatan..?
Secara pendidikan mereka kalah dengan kita, tapi secara mental dan keberanian mereka lebih unggul.

Secara pemahaman agama mereka kalah dengan kita yang kenyang dengan kajian kajian, tapi praktek di lapangan dan keyakinan kepada Allah tentang konsep rejeki, mereka mengalahkan anda.

Indonesiaku Jadi Keranjang Sampah Nikotin


Taufiq Ismail

Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok
Kalau klasifikasi sorga ditentukan jumlah langit yang Melapisinya
Maka negeri kita bagai maskapai rokok, sorga langit ketujuh Klasifikasinya

Indonesia adalah keranjang besar
Yang menampung semua sampah nikotin
Keranjang sampah nikotin ini luar biasa besarnya
Dari pinggir barat ke pinggir timur,

Jarak yang mesti di tempuh melintasi zona 3 waktu
Yaitu 8 jam naik pesawat jet,
10 hari kalau naik kapal laut,
satu tahun kalau naik kuda sumba,
atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang ponorogo

Keranjang sampah ini luar biasa besarnya
Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan kedalamnya
Berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna
Alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi dan marijuana
Berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru
Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia
Mulut indonesia menganga menerimanya

Semua itu, karena gerbang di halaman kita terbuka luas,
Kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme
Fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu
Dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima

Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara,
Karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti,
Dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,

“ Silakan masuk semua, silakan
Monggo monggo mlebet, dipun sakecakaken
Sog asup sadayana, asup, asup
Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah ‘

Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya
Pedagang-pedagang nikotin yang di negeri asalnya
Babak belur digebuki pengadilan bermilyar dolar dendanya
Ketahuan penipunya dan telah membunuhi jutaan pengisapnya
Di usir terbirit–birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga
Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama sama

“ Monggo, monggo den, lnggih rumiyin
ngersaken menopo den bagus
mpun, ngendiko mawon
Aih aih si aden, kasep pisan
Tos lami, sumping, di  dieu, Indonesia ?
Alaa, rancak bana oto angku ko
Sabana rancak
Baa caranyo  kami, supayo…

Demikianlah dengan ras hormat yang lumayan berlebihan
Para pedagang nikotin dari negeri jauh tepi langit sana
Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya
Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti
Di negeri sendiri telah di usiri dan dimaki-maki
Ke dunia ketiga mereka melarikan diri
Pabrik-pabrik mereka di tutup di negeri sendiri
Lalau didirikan di dunia ketiga, termasuk negeri kita ini
Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini
Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani
Lain bangsa kita ditipu dengan gemerlapnya advertensi
Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah
Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi

Kamis, 24 Mei 2012

Tentang Puasa Dibulan Rajab


 
Republika.co.id-Imam Suyuti berkata di dalam Al Amru Bil Ittiba’ Wa nahyu ‘Anil Ibtida’, lembaran 14 / 1: Asy Syafi’i berkata, "Aku membenci seorang laki-laki yang menjadikan Puasa (Rajab) sebulan penuh sebagaimana puasa Ramadhan. Demikian pula puasa sehari di antara hari-hari yang lainnya."

Abu Al Khatab menyebutkan di dalam kitab Ada’u Ma Wajaba Fi bayani Wadh’i Al Wadhi’in Fi Rajab, dari orang kepercayaan, Ibnu Ahmad As Saji Al Hafizh, beliau berkata, "Imam Abdullah Al Anshari, syaikh negeri Khurasan tidak pernah Puasa Rajab, bahkan melarangnya. 

Beliau berkata, ’Tidak ada sesuatu pun yang sah datang dari Rasulullah tentang Keutamaan Rajab dan puasa padanya.’” Beliau berkata, ”Sesungguhnya para sahabat membenci Puasa Rajab. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu 'anhuma.

Umar pernah mengumpamakan orang yang sering Puasa Rajab seperti dirrah (susu yang melimpah-limpah, lihat Mukhtarush Shihah) Aku berkata, 'Permisalan Umar ini terdapat di dalam Al Mu’jam Al Ausath, karya Thabrani dan di dalamnya ada orang yang bernama Al Hasan bin Jabalah.'" Al Haitsami berkata di dalam Al Majma’ 13/191, ”Aku belum pernah menemukan orang yang menyebutkannya, dan rijal hadits yang lainnya tsiqah.”

Menurut Ibnu Wadhah dalam Al Bida’ hlm. 44 dan Al Faqihi dalam Kitabu Makkah, sebagaimana dikatakan oleh Abu Syamah Al Maqdisi dalam Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’ Wal Hawadits, hlm. 49. Beliau berkata juga, “Abu Utsman Sa’id bin Mansur menyandarkannya kepada imam yang disepakati keadilannya dan disepakati mengeluarkan dan meriwayatkannya,” dan beliau berkata, “Ini adalah sanad yang para perawinya disepakati keadilannya.”

Ath Thurtusi dalam Al Hawadits Wal Bida’, hlm. 129 dan Abu Syamah dalam Al Ba’its, hlm. 49 menukil kebencian Abu Bakar pada puasa Rajab.
Imam Abdullah Al Anshari, menukil dari Asy Suyuthi rahimahullah Ta’ala: Jika dikatakan Puasa Rajab adalah amalan yang baik, maka katakan padanya, mengamalkan kebaikan hendaknya sesuai yang disyari’atkan Rasulullah. Bila kita tahu, bahwa itu dusta atas nama Rasulullah, maka itu keluar dari yang disyari’atkan, dan mengagungkannya termasuk perkara jahiliyah, sebagaimana kata Umar. 

Umar pernah memukul rajabiyyin, yaitu orang-orang yang berpuasa Rajab. Adapun Ibnu Abbas, seorang ulama Alquran membencinya juga. Dan dikeluarkan oleh Abdurrazaq di dalam Mushannaf 4/292, dari Atha’ dari Ibnu Abbas, bahwa dia membenci seluruh puasa Rajab, agar tidak dijadikan hari raya. Isnadnya shahih, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Tabyin Al Ajab, hlm. 65, 66 – Al Misriyyah.

Asy Suyuthi berkata juga: Biasanya bila Ibnu Umar melihat manusia dan apa yang mereka siapkan untuk Bulan Rajab, (maka) beliau membencinya. Beliau berkata, ”Berpuasalah pada Bulan Rajab dan berbukalah, karena dia adalah bulan yang dahulu dimuliakan kaum jahiliyyah.”

Ada pula riwayat dari salaf, bahwa dahulu mereka mengingkari perbuatan orang-orang yang mengistimewakan bulan ini dengan berpuasa. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Kharsyah bin Al Hurr, ia berkata, "Saya menyaksikan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu memukuli tangan orang-orang di bulan Rajab, sampai mereka meletakkan tangan-tangan mereka di piring-piring makannya (melarang mereka berpuasa), dan Umar Radhiallahu’anhu berkata, “Makanlah kalian, bulan ini adalah bulan yang dahulu dimuliakan orang-orang jahiliyah.”" [Ada’u ma Wajab (hal. 57 dan 63)]

Juga ketika Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu menemui keluarganya dan melihat mereka membeli cangkir-cangkir minum, dan bersiap-siap untuk puasa, ia berkata, “Apa ini!” 
Mereka menjawab, “Rajab.” 

Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu berkata, “Apa kalian ingin menyerupakannya dengan Ramadhan? Lalu ia memecahkan cangkir-cangkir tersebut.” [Majmu’ Fatawa (25/290-291)]
At Turthusi dalam Al Hawadits Wal Bid’ah, hlm. 129 dan Abu Syamah di dalam Al Ba’its, hlm. 49 menyebutkan atsar Ibnu Umar ini. Dan di hlm. 130-131 berkata, ”Puasa Rajab dibenci berdasarkan salah satu dari tiga segi.

Salah satunya adalah bila orang-orang mengkhususkannya dengan puasa pada setiap tahun, maka orang-orang awam yang tidak tahu akan menyangka (bahwa) itu wajib seperti puasa Ramadhan, atau mungkin sunnah yang tetap yang dikhususkan Rasulullah untuk berpuasa, seperti sunnah-sunnah rawatib. Dan bisa jadi, puasa itu ditentukan karena keutamaan pahalanya dibanding seluruh bulan, sebagaimana puasa ‘Asy Syura. Maka puasa itu dianggap ada karena ada keutamaannya, bukan hanya karena sisi sunnah atau wajibnya.

Andaikata hal ini terjadi karena ada keutamaannya, tentu Rasulullah telah menjelaskan atau Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukannya, meskipun sekali seumur hidupnya. Sebagaimana Beliau pernah melakukan puasa ‘Asy Syura.

Dan (dalam masalah ini) Beliau tidak pernah melakukanya, sehingga batallah anggapan keberadaan puasa itu, dikarenakan tidak ada keutamaannya. Secara ittifaq, itu bukan fardhu dan bukan pula wajib.

Dan secara khusus, tidak ada dalil yang menetapkan anjuran Puasa Rajab. Dengan demikian, berpuasa Rajab dengan melakukannya secara terus-menerus merupakan suatu perkara yang dibenci.
Wallahu a’lam... karena kita memiliki pedoman yaitu alquran dan sunnah.

Karena Wanita Ingin Dimengerti

Rabu, 23 Mei 2012

Hukum Puasa Rajab

Lita ketahui bahwa bulan ini telah memasuki Bulan Rajab, dan banyak saudara saudaraka kita tengah menunaikan Ibadah Puasa Rajab, dan ada sebagian yang tidak. Kebanyakan yang tidak Puasa Rajab menanyakan tentang HukumPuasa Rajab.

Terkait Hukum Puasa Rajab dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan “Memang benar  tidak satupun ditemukan hadits shahih mengenai puasa Rajab, namun telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul saw menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Masih dengan Hukum Puasa Rajab, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 213).

Ibnu Rajab menjelaskan pula, “Sebagian salaf berpuasa pada bulan haram seluruhnya (bukan hanya pada bulan Rajab saja, pen). Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu ‘Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi’iy. Ats Tsauri berkata, “Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 214).

Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan Keutamaan Puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401).

Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan KeutamaanPuasa di Bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”

Jika ingin Puasa di Bulan Rajab karena ada kebiasaan seperti punya kebiasaan puasa daud, puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh atau puasa tiga hari setiap bulannya, ini berarti tidak mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa tertentu dan tidaklah masalah meneruskan kebiasaan baik seperti ini.

Setiap perbuatan dasarilah dengan ilmu, begitu pula setiap broadcast mengajak pada kebaikan, dasarilah dengan ilmu. Remajaislam.com

Puasa Rajab dan Keutamaannya

Tak sadar ternyata ini telah masuk dalam Bulan Rajab, saya pun ta kkunjung menyadari jua bila tak ada teman saya yang tengah menunaikan PuasaRajab menyapaku dan menanyakan. Hari ini kamu puasa ndak?, seketika ku melongo, lho kenapa kok puasa memang ini hari ala, lantas teman saya tersenyum dan menjawab, ini Bulan Rajab sob, Makanya aku Puasa Rajab

Sobat, Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram atau muharramyang artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab

Bulan Rajab adalah bulan ke tujuh  dari bulan hijriah (penanggalan  Arab dan Islam). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam untuk menerima perintah salat lima waktu diyakini terjadi pada 27 Rajab ini. Dinamakan bulan haramkarena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan:

“ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”


Keutamaan Puasa Rajab juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram(Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan  muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Senin, 21 Mei 2012

Sebuah Pesan dari Gubuk Kecil



Aku melihatmu gadis...
Di jalan-jalan, di mall, dan di acara2 TV (Girlband, sinetron)..
 

Kamu cantik dan sexi...
Adalah munafik jika aku bilang tidak suka melihatmu terlihat sexi.

 

Tapi gadis..
Kehormatan dan harga diri seorang wanita ada dalam busana,
Bagaimana kamu berpakaian, begitulah pikiran orang terhadapmu.
Kalau kepada diri sendiri saja engkau tidak menghargai,
Lalu bagaimana orang laen bisa menghargaimu..??

Kata org jawa: 'Ajining rogo soko busono, ajining diri soko ing lathi'..
artinya, kehormatan diri seseorang tergantung dari caranya berbusana dan apa yang keluar dari lisannya.

Gadis..
kamu cantik sekali dengan pakaian sexi..
Tapi sungguh akan lebih cantik jika tertutupi.
Aku menghormatimu, karena dirimu adalah makhluk terindah,
 

Kamu dipahat oleh Yang Maha Pencipta segala sesuatu..
Maka peliharalah itu agar engkau tetap terpahat sempurna.
Oke gadis....?

-SenyuM-

Jumat, 18 Mei 2012

Lapangkanlah Dada Dan Luaskanlah Hati



Kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. 


Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita.


Jadi, saat kita merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan.


Lapangkanlah dada menerima semuanya.
Luaskanlah hati untuk menampung setiap kepahitan itu.

Sahabat, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah?

Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita?

Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

Sabtu, 30 Juli 2011

Bencana Karena Ulah Manusia

Kebesaran Allah SWT sungguh nyata, semua peristiwa alam yang terjadi merupakan secuil bukti Kebesaran Allah SWt yang terkadang sering menghilang dari kesadaran kita karena ke angkuhan kita dan kesombongan kita sendiri. 

Bencana demi bencana yang terjadi di Tanah Air yang tentu banyak meninggalan duka yang mendalam tidak hanya dari kalangan korban, namun juga bagi seluruh Bangsa Indonesia. Negara ku tercinta yang sekarang sedang dirundung oleh bencana yang tiada terkira. Mengapa?


Mengapa ini harus terjadi di Negara Kita, Negara Indonesia
Kenapa Bencana beruntun datang dengan silih berganti, tanpa memandang kemarin tanah air kami sedang terpuruk karena dilanda bencana…


Suatu Renungan Hati sekaligus pertanyaan mendalam yang tiada pernah terbayangkan akan seperti ini keadaanya. Apalagi Negara kita adalah Negara dengan Mayoritas Muslim Tebanyak di Dunia….Miris mendengarnya…. Lalu apakah ini adzab atau hanya sebuah peringatan


Namun bila dikatakan sebuah peringatan, Kenapa sampai berulang kali?
Lalu apa yang terjadi?
Allah SWT berfirman: 
 


“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Q.S. Al-A’raaf 7:96).

Dari ayat diatas kita dapat mengetahui, apa yang menjadi pokok permasalahan utamanya.
Yaps, Permasalahannya adalah penduduk di Negeri itu sendiri, Penduduk Indonesia.


Kenapa?
Karena semua kerusakan yang terjadi di dunia ini adalah ulah dari manusia itu sendiri. Kerusakan lingkungan, Polusi udara, banjir lautan dan air yang tercemar, siapakah kalaw bukan manusia yang melakukan itu semua…


Sesuai janji Allah SWT melalui firmannya dalam Q.S. Al-A’raaf 7:96 “Allah SWT akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa, namun sebaliknya Allah SWT akan menyiksa penduduk tersebut jikalau mereka mendustakan ayat-ayat Allah SWT


Naudzubillah


“Marilah Kita menjaga apa yang telah diberikan kepada kita, karena semua itu hanyalah titipan semata”